Pendahuluan: Depresi merupakan gangguan mental yang ditandai oleh perasaan sedih yang berkepanjangan, kehilangan minat, serta gangguan fungsi sosial. Terapi konvensional seperti antridepresan dan psikoterapi belum sepenuhnya efektif bagi semua pasien. Hal ini mendorong pencarian alternatif pengobatan komplementer, salah satunya adalah akupunktur. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui database Pubmed dengan kata kunci “acupuncture” AND “depression” AND “compelementary therapy”. Data dianalisis secara deskriptikatan tinjauan sistematis naratif terhadap 10 studi RCT yang mengevaluasi penggunaan akupunktur pada penderita depresi, baik sebagai terapi utama maupun terapi tambahan. Data dianalisis secara deskriptik berdasarkan perubahan skor depresi, frekuensi terapi, dan jenis teknik akupunktur yang digunakan. Pembahasan: Akupunktur terbukti efektif menurunkan gejala depresi, baik secara subjektif melalui pengukuran skala HAMD dan BDI, maupun secara objektif melalui regulasi sumbu HPA dan peningkatan neuroplastisitas. Teknik electroacupuncture dan scalp acupuncture memberikan responnggu hingga delapan minggu menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi. Teknik electroacupuncture dan scalp acupuncture memberikan respon klinis yang lebih cepat dan mendalam dibanding teknik manual biasa. Simpulan: Akupunktur merupakan terapi komplementer yang potensial untuk mendukung penanganan depresi, dengan mekanisme kerja yang melibatkan regulasi neuroendokrin dan sistem saraf pusat. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyusun panduan praktik klinis dan mengevaluasi dampak jangka panjangnya terhadap kualitas hidup penderita.