Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BATANG KAYU SRIKAYA DENGAN BIJI BUAH SRIKAYA (Annona squamosa L.) TERHADAP KEMATIAN JENTIK NYAMUKAedes aegypti Abdul Syukur; Tri Fatmawati, Hajimi
Jurnal Kesehatan Vol. 2 No. 8 (2025): Jurnal Kesehatan (JK)
Publisher : CV. Adiba Aisha Amira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Comparison Of The Effectiveness Of Sugar Apple Trunk Bark With Sugar Apple Seeds (Annona Squamosa L.) On Death Of Aedes Aegypti Mosquito. Vector control aims to reduce the risk of transmitting Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). In order to minimize the reproduction of the Aedes Sp mosquito vector, it is necessary to break the chain from the condition where the mosquito is still a larva. In connection with this, efforts are needed to obtain alternative insecticides that are natural and decompose in nature, and are safe for the environment, namely using plants that contain natural insecticides, one of which is the sugar apple plant (Annona squamosa L.). This research method is quasi-experimental research with Nonequivalent Control Group Design. The Aedes aegypti mosquito larvae were divided into 2 groups, the group that would be tested to compare sugar apple bark extract with sugar apple seeds and a control group without treatment. Mann-Whitney test results pvalue = 0.876 (> α/0.05) or there is no significant difference between sugar apple bark extract and sugar apple seed extract on larval death. The results of tests in the laboratory showed that the bark extract of srikaya had the effect of causing 89.6% larval death, while the srikaya fruit seed extract had the effect of causing 100% larval death, so it could It was stated that srikaya fruit seed extract was more effective in killing Aedes aegypti mosquito larvae. The conclusion of this research is that there is a difference in effectiveness between sugar apple bark extract and sugar apple seed extract on the death of Aedes aegypti larvae.
PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PETUGAS LABORATORIUM PUSKESMAS DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR TB PARU DI KABUPATEN SAMBAS Abdul Syukur; Paulina Paulina; Yulia Yulia
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) Paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan merupakan penyakit akibat kerja yang berisiko tinggi pada petugas laboratorium fasilitas pelayanan kesehatan primer. Petugas laboratorium Puskesmas berpotensi terpapar Mycobacterium tuberculosis melalui pemeriksaan spesimen yang dapat menghasilkan aerosol infeksius, sehingga penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi aspek penting dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) TB. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan sarana prasarana dengan penerapan K3 pada petugas laboratorium Puskesmas di Kabupaten Sambas. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 48 petugas laboratorium dari 28 Puskesmas menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasi menggunakan checklist. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tidak berhubungan signifikan dengan penerapan K3 (p=0,381), sedangkan sikap (p=0,041) dan sarana prasarana (p=0,008) berhubungan signifikan dengan penerapan K3. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan K3 lebih dipengaruhi oleh faktor perilaku dan faktor pemungkin dibandingkan pengetahuan semata. Oleh karena itu, penguatan budaya keselamatan serta pemenuhan sarana prasarana menjadi strategi penting dalam pencegahan TB Paru di laboratorium Puskesmas.
GAMBARAN KONDISI SANITASI DEPOT AIR MINUM BIRU DI KOTA PONTIANAK Weni Wahyuni Aprilya; Asmadi; Abdul Syukur
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 5 No 01 (2026): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Technology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v5i01.475

Abstract

Peningkatan jumlah Depot Air Minum di Kota Pontianak dan temuan surveilans Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 yang menunjukkan kontaminasi Escherichia coli pada air minum isi ulang. Data dari sumber terdahulu juga menunjukkan masalah sanitasi dan higiene di Depot Air Minum Biru, seperti praktik mencuci tangan yang kurang higienis dan lingkungan yang belum cukup ideal menunjukkan bahwa DAM Biru memerlukan perhatian dalam usaha mencegah kontaminasi yang disebabkan oleh kondisi dan fasilitas sanitasi yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi sanitasi Depot Air Minum Biru di Kota Pontianak meliputi lokasi, desain bangunan luar dan dalam, fasilitas, penjamah, peralatan, dan sumber air baku. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan observasi menggunakan ceklist Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 17 Tahun 2024. Dengan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Sampel penelitian adalah tujuh DAM Biru di Kota Pontianak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketujuh DAM Biru secara umum telah memenuhi syarat sanitasi (≥80%) berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 17 Tahun 2024. Namun, terdapat beberapa kekurangan, seperti kurangnya fasilitas cuci tangan di area luar di ketujuh depot Biru, beberapa kekurangan di fasilitas kamar mandi di dua dari tujuh depot biru, ketujuh penjamah di depot biru belum melakukan praktik cuci tangan yang baik dan tidak dilakukan secara berkala, dan belum adanya bukti pemeriksaan kesehatan berkala bagi seluruh penjamah. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan Depot Air Minum Biru di Kota Pontianak memiliki Kondisi lokasi yang 100% memenuhi syarat. Namun untuk desain bangunan luar 100% masih belum memenuhi syarat. Bangunan dan fasilitasnya 100% memenuhi syarat konstruksi dan standar sanitasi. Kondisi penjamah telah memenuhi standar higiene 100%. Semua peralatan DAM 100% memenuhi standar, Sumber air baku DAM Biru juga telah 100% memenuhi syarat menurut Permenkes Nomor 17 Tahun 2024.