Produksi salak di kawasan Wisata Agro Salak Pondoh Ledoknongko, Desa Bangunkerto, Sleman, Yogyakarta sangat melimpah dan selama ini hanya diperjualbelikan dalam kondisi segar, yang berdampak pada rendahnya harga jual di pasaran. Untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk lokal, diperlukan diversifikasi produk olahan pascapanen. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Salaghurt, yaitu yoghurt berbasis buah salak yang halal dan bernilai fungsional karena mengandung probiotik. Usaha mikro berbasis produk olahan halal seperti Salaghurt menjadi strategi penting dalam memperkuat perekonomian lokal dan mendukung keberlanjutan bisnis berbasis kearifan lokal. Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan literasi halal pelaku usaha mikro produk Salaghurt agar mampu memenuhi standar kehalalan dalam seluruh rantai produksi, serta memperkuat daya saing dan keberlanjutan usaha di kawasan wisata agro. Kegiatan pengabdian meliputi pelatihan literasi halal secara intensif, pendampingan proses sertifikasi halal, serta evaluasi pemahaman peserta melalui kuesioner pre dan post pelatihan. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman literasi halal, dari rata-rata 45% sebelum pelatihan menjadi 87% setelah pelatihan. Selain itu, terjadi peningkatan kesadaran dan kemampuan pelaku usaha dalam menerapkan standar halal, yang berdampak positif pada reputasi dan daya saing produk Salaghurt di pasar. Kontribusi pengabdian ini tidak hanya pada peningkatan kapasitas individu pelaku usaha, namun juga pada penguatan jejaring usaha mikro, pembentukan budaya produksi halal yang berkelanjutan, serta peningkatan kepercayaan konsumen terhadap produk olahan lokal. Literasi halal terbukti menjadi faktor kunci dalam mendukung keberlanjutan dan pengembangan usaha mikro produk olahan di kawasan wisata agro, sekaligus memperluas peluang pemasaran produk halal yang bernilai tambah.