Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

DINAMIKA DALANG PEREMPUAN WAYANG PURWA DALAM ARUS ISLAMISASI Harianto, Budi; Ardiani, Seli Muna
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 6, No 01 (2018): Jurnal Ilmu - Ilmu Ushuluddin
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2018.6.01.99-118

Abstract

Dalang perempuan wayang purwa mulanya hadir dengan identitaskultural Jawa yang kental. Identitas ini tercermin dalam pola pikirmasyarakat Jawa yang selalu bergerak ke atas untuk mencapai prinsipharmoni alam; kemudian dipraktikkan dalam ritus-ritus khas demimenjaga prinsip kemenyatuan tersebut. Peran penting ini kemudianberangsur luruh dari waktu ke waktu. Arus Islamisasi yang kianmenguat paska reformasi menjadi salah satu ‘pengganjal’ nasib dalangperempuan. Dalang perempuan juga menjadi sasaran arus Islamisasidalam kepentingan kontestasi politik di Indonesia. Selain dihadapkandengan fakta pedalangan yang malesentrism, dalang perempuan jugaterpaksa mengamini tafsir keagamaan Islam yang jauh lebih tertutup.Artikel di bawah ini berusaha untuk menjawab bagaimana dinamikayang terjadi pada dalang perempuan wayang purwa dalam arusIslamisasi.Kata kunci: Dalang Perempuan, Identitas Kultural, Islamisasi,Masyarakat Jawa
PANGGUNG DALANG PEREMPUAN WAYANG KULIT PURWA: ANALISIS GENDER ATAS NYI ARUM ASMARANI ARDIANI, SELI MUNA
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.42 KB) | DOI: 10.21274/martabat.2019.3.1.1-22

Abstract

Dalang perempuan hadir dalam narasi timpang kebudayaan. Sosoknya liyan dalam masyarakat, juga kurang mendapat perhatian dalam kajian akademik. Betapapun itu, dalang perempuan tetap hadir di tengah arus dominasi dalang laki-laki. Pada ruang budaya patriarkhi, keberadaannya pun mengancam supremasi nilai patriarkal. Konsekuensinya, berbagai bentuk subordinasi dan stereotype buruk melekat dalam dirinya. Di antra sedikit perempuan yang menjadi dalang, Nyi Arum Asmarani adalah sosok dalang perempuan wayang purwo yang menarik untuk dikaji. Pasalnya, berbagai bias patriarki melekat dan menghantam kehadiranya di tengah supremasi panggung pedalangan. Atas persoalan tersebut, artikel di bawah ini hendak menjawab rumusan: bagaimana Nyi Arum Asmarani hadir dalam panggung pedalangan yang didominasi oleh dalang laki-laki? persoalan tersebut hendak dikaji melalui pendekatan analisis gender dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Adapun hasil kajian ini mendapati bahwa dalang perempuan mendapatkan tantangan yang jauh lebih besar dibanding dalang laki-laki. Nyi Arum, mendapatkan problem besar berupa peremehan dari dalang laki-laki, yogo, dan sinden. Selain itu, ia juga mendapatkan tantangan yang jauh lebih besar dari nilai agama Islam yang membesarkannya. Key Word: dalang perempuan, Nyi Arum Asmarani, budaya patriarki,
DINAMIKA DALANG PEREMPUAN WAYANG PURWA DALAM ARUS ISLAMISASI Harianto, Budi; Ardiani, Seli Muna
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.317 KB) | DOI: 10.21274/kontem.2018.6.1.99-118

Abstract

The female Wayang Purwa puppeteer originally came with a heavy Javanese cultural identity. This identity is reflected in the mindset of Javanese people who always move upward to achieve the principle of natural harmony; then practiced in specific rites in order to maintain the principle of unity. This important role then gradually declines over time. The process of Islamization which has strengthened after the reformation era has become an obstacle of the fate of female puppeteer. Female puppeteers are also the target of the current Islamization in the interests of political contestation in Indonesia. In addition to being confronted with the fact of malesentrism, the female puppeteers are also forced to accept a far more closed interpretation of Islamic religion. This article aims to answer how the dynamics that occur in female puppeteers of Wayang Purwa in the stream of Islamization. Keywords: Female Puppeteer, Cultural Identity, Islamization, Javanese Society  Dalang perempuan wayang purwa mulanya hadir dengan identitas kultural Jawa yang kental. Identitas ini tercermin dalam pola pikir masyarakat Jawa yang selalu bergerak ke atas untuk mencapai prinsip harmoni alam; kemudian dipraktikkan dalam ritus-ritus khas demi menjaga prinsip kemenyatuan tersebut. Peran penting ini kemudian berangsur luruh dari waktu ke waktu. Arus Islamisasi yang kian menguat paska reformasi menjadi salah satu ?pengganjal? nasib dalang perempuan. Dalang perempuan juga menjadi sasaran arus Islamisasi dalam kepentingan kontestasi politik di Indonesia. Selain dihadapkan dengan fakta pedalangan yang malesentrism, dalang perempuan juga terpaksa mengamini tafsir keagamaan Islam yang jauh lebih tertutup. Artikel di bawah ini berusaha untuk menjawab bagaimana dinamika yang terjadi pada dalang perempuan wayang purwa dalam arus Islamisasi. Kata kunci: Dalang Perempuan, Identitas Kultural, Islamisasi, Masyarakat Jawa
PANGGUNG DALANG PEREMPUAN WAYANG KULIT PURWA: ANALISIS GENDER ATAS NYI ARUM ASMARANI ARDIANI, SELI MUNA
Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/martabat.2019.3.1.1-22

Abstract

Dalang perempuan hadir dalam narasi timpang kebudayaan. Sosoknya liyan dalam masyarakat, juga kurang mendapat perhatian dalam kajian akademik. Betapapun itu, dalang perempuan tetap hadir di tengah arus dominasi dalang laki-laki. Pada ruang budaya patriarkhi, keberadaannya pun mengancam supremasi nilai patriarkal. Konsekuensinya, berbagai bentuk subordinasi dan stereotype buruk melekat dalam dirinya. Di antra sedikit perempuan yang menjadi dalang, Nyi Arum Asmarani adalah sosok dalang perempuan wayang purwo yang menarik untuk dikaji. Pasalnya, berbagai bias patriarki melekat dan menghantam kehadiranya di tengah supremasi panggung pedalangan. Atas persoalan tersebut, artikel di bawah ini hendak menjawab rumusan: bagaimana Nyi Arum Asmarani hadir dalam panggung pedalangan yang didominasi oleh dalang laki-laki? persoalan tersebut hendak dikaji melalui pendekatan analisis gender dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Adapun hasil kajian ini mendapati bahwa dalang perempuan mendapatkan tantangan yang jauh lebih besar dibanding dalang laki-laki. Nyi Arum, mendapatkan problem besar berupa peremehan dari dalang laki-laki, yogo, dan sinden. Selain itu, ia juga mendapatkan tantangan yang jauh lebih besar dari nilai agama Islam yang membesarkannya. Key Word: dalang perempuan, Nyi Arum Asmarani, budaya patriarki,
DINAMIKA DALANG PEREMPUAN WAYANG PURWA DALAM ARUS ISLAMISASI Budi Harianto; Seli Muna Ardiani
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 6 No 1 (2018): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2018.6.1.99-118

Abstract

The female Wayang Purwa puppeteer originally came with a heavy Javanese cultural identity. This identity is reflected in the mindset of Javanese people who always move upward to achieve the principle of natural harmony; then practiced in specific rites in order to maintain the principle of unity. This important role then gradually declines over time. The process of Islamization which has strengthened after the reformation era has become an obstacle of the fate of female puppeteer. Female puppeteers are also the target of the current Islamization in the interests of political contestation in Indonesia. In addition to being confronted with the fact of malesentrism, the female puppeteers are also forced to accept a far more closed interpretation of Islamic religion. This article aims to answer how the dynamics that occur in female puppeteers of Wayang Purwa in the stream of Islamization. Keywords: Female Puppeteer, Cultural Identity, Islamization, Javanese Society  Dalang perempuan wayang purwa mulanya hadir dengan identitas kultural Jawa yang kental. Identitas ini tercermin dalam pola pikir masyarakat Jawa yang selalu bergerak ke atas untuk mencapai prinsip harmoni alam; kemudian dipraktikkan dalam ritus-ritus khas demi menjaga prinsip kemenyatuan tersebut. Peran penting ini kemudian berangsur luruh dari waktu ke waktu. Arus Islamisasi yang kian menguat paska reformasi menjadi salah satu ‘pengganjal’ nasib dalang perempuan. Dalang perempuan juga menjadi sasaran arus Islamisasi dalam kepentingan kontestasi politik di Indonesia. Selain dihadapkan dengan fakta pedalangan yang malesentrism, dalang perempuan juga terpaksa mengamini tafsir keagamaan Islam yang jauh lebih tertutup. Artikel di bawah ini berusaha untuk menjawab bagaimana dinamika yang terjadi pada dalang perempuan wayang purwa dalam arus Islamisasi. Kata kunci: Dalang Perempuan, Identitas Kultural, Islamisasi, Masyarakat Jawa
DINAMIKA DALANG PEREMPUAN WAYANG PURWA DALAM ARUS ISLAMISASI Budi Harianto; Seli Muna Ardiani
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 6 No 1 (2018): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2018.6.1.99-118

Abstract

The female Wayang Purwa puppeteer originally came with a heavy Javanese cultural identity. This identity is reflected in the mindset of Javanese people who always move upward to achieve the principle of natural harmony; then practiced in specific rites in order to maintain the principle of unity. This important role then gradually declines over time. The process of Islamization which has strengthened after the reformation era has become an obstacle of the fate of female puppeteer. Female puppeteers are also the target of the current Islamization in the interests of political contestation in Indonesia. In addition to being confronted with the fact of malesentrism, the female puppeteers are also forced to accept a far more closed interpretation of Islamic religion. This article aims to answer how the dynamics that occur in female puppeteers of Wayang Purwa in the stream of Islamization. Keywords: Female Puppeteer, Cultural Identity, Islamization, Javanese Society  Dalang perempuan wayang purwa mulanya hadir dengan identitas kultural Jawa yang kental. Identitas ini tercermin dalam pola pikir masyarakat Jawa yang selalu bergerak ke atas untuk mencapai prinsip harmoni alam; kemudian dipraktikkan dalam ritus-ritus khas demi menjaga prinsip kemenyatuan tersebut. Peran penting ini kemudian berangsur luruh dari waktu ke waktu. Arus Islamisasi yang kian menguat paska reformasi menjadi salah satu ‘pengganjal’ nasib dalang perempuan. Dalang perempuan juga menjadi sasaran arus Islamisasi dalam kepentingan kontestasi politik di Indonesia. Selain dihadapkan dengan fakta pedalangan yang malesentrism, dalang perempuan juga terpaksa mengamini tafsir keagamaan Islam yang jauh lebih tertutup. Artikel di bawah ini berusaha untuk menjawab bagaimana dinamika yang terjadi pada dalang perempuan wayang purwa dalam arus Islamisasi. Kata kunci: Dalang Perempuan, Identitas Kultural, Islamisasi, Masyarakat Jawa
Melampaui Abangan-Santri: Majelis Sabilu Taubah and Identitas Ganda Baru: Majelis Sabilu Taubah and New Hybrid Identities Mustofa, Saiful; Khoirul Fata, Mohamad; Muna Ardiani , Seli
Dialogia Vol. 23 No. 02 (2025): DIALOGIA: JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : Ushuluddin, Adab, and Dakwah Faculty of State Islamic University Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/dialogia.v23i02.11932

Abstract

This article seeks to discuss the emergence of new hybrid identities in the Sabilu Taubah Majelis, Pesantren Mambaul Hikam Blitar, led by Gus Muhamad Iqdam (Gus Iqdam). Gus Iqdam refers to his congregation as “garangan,” new identities that encompass a diverse group of individuals, including former gangsters, gamblers, alcohol consumers, and nightclub performers. Using a phenomenological approach, this article deals with the factors that attract the “garangan” group to participate in the Sabilu Taubah Majelis and how they represent their religious identity. This article argues that the “garangan” group is drawn to Sabilu Taubah’s dakwah due to its welcoming, millennial-oriented, engaging, and non-judgmental approach. Furthermore, the term “garangan” cannot be strictly classified as either abangan or santri, as suggested by Clifford Geertz’s thesis, nor does it fit the concept of “nominal Islam” as proposed by Merle Calvin Ricklefs. Instead, they embody a religious hybrid identity, existing in a liminal space—identifying as santri while simultaneously maintaining aspects of their former professions. In this way, they construct and express their religious identities. REFERENCES Akmaliah, Wahyudi. “The Demise of Moderate Islam: New Media, Contestation, and Reclaiming Religious Authorities.” Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies 10, no. 1 (2020): 1–24. https://doi.org/10.18326/ijims.v10i1.1-24. Akmaliah, Wahyudi, and Norshahril Saat. “From Liberalism to Sufism : Ulil Abshar Abdalla Gains Renewed Relevance Online Through Ngaji Ihya.” Perspective: Researchers at ISEAS – Yusof Ishak Institute Analyse Current Events, no. 91 (2022): 1–11. Beatty, Andrew. Variasi Agama Di Jawa: Sebuah Pendekatan Antropologi. Jakarta: Murai Kencana, 2001. Bhabha, Homi K. The Location of Culture. London: Routledge, 1994. Bunt, Gary R. Hashtag Islam: How Cyber-Islamic Environments Are Transforming Religious Authority. Chapel Hill: The University of North Carolina Press, 2018. Casanova, Jose. “Public Religions in the Modern World.” Chicago: The University of Chicago Press, 1994. Daniels, Timothy. Islamic Spectrum in Java. Islamic Spectrum in Java. USA: Ashgate Publishing Company, 2009. Dhofier, Zamakhsyari. “The Intellectualization of Islamic Studies in Indonesia.” Indonesia Circle. School of Oriental & African Studies. Newsletter 20, no. 58 (1992): 19–31. https://doi.org/10.1080/03062849208729783. Edmonds, James. “Smelling Baraka: Everyday Islam and Islamic Normativity.” The American Journal of Islamic Social Sciences 36, no. 3 (2019). Eickelman, Dale F., and Jon W. (et.al) Anderson. “New Media in the Muslim World: The Emerging Public Sphere.” edited by Jon W. Eickelman, Dale F. & Anderson, Second Edi., 1–18. Bloomington: Indiana University Press, 2003. ———. Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik Dan Postmodernisme Menurut Jürgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius, 2013. Gary R. Bunt. Hashtag Islam: How Cyber-Islamic Environments Are Transforming Religious Authority. north carolina: The university of north carolina Press, 2018. https://doi.org/10.1163/21659214-00803009. ———. Islam in the Digital Age: E-Jihad, Online Fatwas and Cyber Islamic Environments. London: Pluto Press, 2003. https://doi.org/10.35632/ajis.v21i4.1749. Geertz, Clifford. The Religion of Java. Chicago & London: The University of Chicago Press, 1960. ———. The Religion of Java. London: Free Press of Gleocester, 1964. Hadar, Husein Ja’far Al. Tuhan Ada Di Hatimu. Jakarta: Noura Books Publishing, 2020. Hall, Stuart. “Cultural Identity and Diaspora.” Edited by David Morley. Essential Essays 02 (November 2, 1990). https://doi.org/10.2307/j.ctv11smnnj. Hefner, Robert W. “Where Have All the Abangan Gone? Religionization and the Decline of Non-Standard Islam in Contemporary Indonesia.” In The Politics of Religion in Indonesia. New York: Routledge Taylor & Francis Group, 2011. Heidi A. Campbell. “When Religion Meets New Media.” London: Routledge, 2010. Hew Wai Weng. “The Art of Dakwah: Social Media, Visual Persuasion and the Islamist Propagation of Felix Siauw.” Indonesia and the Malay World 46, no. 134 (2018): 61–79. https://doi.org/10.1080/13639811.2018.1416757. Hidayat, Muhammad Hamdani. “Retorika Dakwah Agus Muhammad Iqdam Dalam Upaya Meningkatkan Religiusitas Jamaah Majelis Taklim Sabilu Taubah Di Ds. Karanggayam Kec. Srengat Kab. Blitar.” UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2022. Hilmy, Masdar. “Towards a Religiously Hybrid Identity.” Journal of Indonesian Islam 12, no. 01 (2018). Ismail Fajrie Alatas. What Is Religious Authority?Cultivating Islamic Communities in Indonesia. Princeton & Oxford: Princeton University Press, 2021. Khamami, Akhmad Rizqon. “Nasionalis Cum Nahdliyin: A New Identity for Nominal Javanese Muslim.” Contemporary Islam 16, no. 1 (2022). https://doi.org/https://link.springer.com/article/10.1007/s11562-022-00505-6. Larkin, Jonathan A. Smith; Paul Flowers; Michael. Interpretative Phenomenological Analysis: Theory, Method and Research. London: Sage Publications, 2009. Lukens-Bull, Ronald. A Peacefull Jihad: Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java. New York: Palgrave Macmillan, 2005. Masyitoh, Reny. “Dakwah Melalui Media Sosial: Studi Dakwah Gus Iqdam Pada Majelis Ta’lim Sabilu Taubah.” Mukammil: Jurnal Kajian Islam 04, no. 01 (2023). Mubarokah, Aisyatul. “Strategi Dakwah Bil Lisan Gus Iqdam Dalam Meningkatkan Religiusitas Mad’u Melalui Majelis Ta’lim Sabilu Taubah.” Tabsyir: Jurnal Dakwah Dan Sosio Humaira 04, no. 02 (2023). Priyatni, Endah Tri, and Ani Wilujeng Suryani. “Pemanfaatan NVivo Dalam Penelitian Kualitatif NVivo Untuk Kajian Pustaka, Analisis Data, Dan Triangulasi.” Malang, 2020. Ricklefs, M. C. Islamisation and Its Opponents in Java: A Political, Social, Cultural and Religious History, c. 1930 to the Present. Singapore: NUS Singapore, 2012. ———. The Birth of the Abangan. Netherlands: Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, 2006. Rofiq, Mohammad. “Pendekatan Komunikasi Massa Dalam Dakwah Gus Iqdam Di Majelis Taklim Sabilu Taubah Blitar.” Jadid: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication 03, no. 02 (2023). Ruthven, Malise. Islam: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press, 1997.