Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGARUH MOBILISASI DAN TERAPI BUNDLES CARE TERHADAP PENCEGAHAN PRESSURE INJURY DI RUMAH SAKIT TK IM IV.0701 LHOKSEUMAWE Alhuda; Dwinanto, Wahyu Fajar; Sari, Dian Vita; T.M. Sabil; Sari, Maulida
Jurnal Kesehatan Akimal Vol 5 No 1 (2026): EDISI APRIL 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58435/jka.v5i1.234

Abstract

Pressure Injury merupakan cedera lokal pada kulit dan/atau jaringan di bawah kulit yang umumnya terjadi pada area tonjolan tulang akibat tekanan yang berlangsung lama, gesekan pada kulit, gangguan mobilitas, penurunan persepsi sensorik, serta faktor usia lanjut. Kondisi ini menjadi salah satu masalahkeperawatan yang perlu dicegah, terutama pada pasien dengan keterbatasan gerak selama menjalani perawatan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mobilisasi dan terapi bundle care terhadap pencegahan pressure injury di Rumah Sakit TK III Iskandar Muda Lhokseumawetahun 2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 48 responden yang dibagi ke dalam dua kelompok, masing- masing terdiri atas 24 responden. Pengukuran risiko pressure injury dilakukan menggunakan instrumen Braden Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok terapi mobilisasi, responden dengan kategori no risk sebanyak 23 orang atau 95,8%, sedangkan 1 orang berada pada kategori berisiko. Pada kelompok terapi bundle care, diperoleh hasil yang sama, yaitu sebanyak 23 orang atau 95,8% berada pada kategori no risk, sedangkan 1 orang berada pada kategori berisiko. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000, yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara mobilisasi dan terapi bundle care terhadap pencegahan pressure injury. Dengan demikian, terapi mobilisasi dan terapi bundle care terbukti efektif dalam mencegah terjadinya pressure injury pada pasien rawat inap. Kedua intervensi ini diharapkan tetap diterapkan secara konsisten, khususnya pada pasien dengan keterbatasan mobilitas minimal hingga sedang.