Pendahuluan : Pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik merupakan faktor penting dalam mencegah penyalahgunaan obat dan resistensi bakteri. Tujuan : Untuk menganalisis tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik dan hubungannya dengan perilaku penggunaan antibiotik di Desa Tumbang Mahuroi RT.2, Kabupaten Gunung Mas. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 39 responden dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur karakteristik demografis, tingkat pengetahuan, dan perilaku penggunaan antibiotik. Hasil : Analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penggunaan antibiotik, yaitu sebanyak 33 orang (84,62%), sedangkan 6 orang (15,38%) memiliki tingkat pengetahuan tidak baik. Meskipun demikian, masih ditemukan kekeliruan pada aspek penting seperti indikasi penggunaan, aturan konsumsi, penyimpanan sisa obat, dan risiko resistensi antibiotik, sehingga edukasi berkelanjutan tetap diperlukan, mayoritas berada pada kelompok usia 16–28 tahun (51,28%), dengan distribusi jenis kelamin yang relatif seimbang antara perempuan (51,28%) dan laki-laki (48,72%). Sebagian besar responden berpendidikan SMA (48,72%) dan bekerja sebagai petani serta pelajar/mahasiswa (masing-masing 28,21%). Faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan turut memengaruhi akses informasi serta pemahaman terkait penggunaan antibiotik. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square menunjukkan nilai p = 0,003 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penggunaan antibiotik. Kesimpulan : Semakin baik tingkat pengetahuan seseorang, semakin rasional penggunaan antibiotik yang dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan strategi edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan sesuai dengan karakteristik masyarakat untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang tepat dan mencegah resistensi.