Naufal Athiya Primananda
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Media Relations Terhadap Citra Organisasi Pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) Di Surakarta Ilham Arif Prayoga; Aliya Nandita Salsabela; Sinduarta Ega Iswardana; Ani Noviya; Naufal Athiya Primananda
CITACONOMIA : Economic and Business Studies Vol. 5 No. 02 (2026): April - Juni
Publisher : CITACONOMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/citaconomia.v5i02.3249

Abstract

Abstrak: Media relations merupakan salah satu fungsi penting dalam public relations yang berperan dalam membangun hubungan antara organisasi dan media massa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media relations terhadap citra organisasi pada PT Kereta Api Indonesia di Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur dari berbagai jurnal ilmiah nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media relations memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk citra organisasi melalui penyampaian informasi yang akurat, konsisten, dan kredibel. Selain itu, pemanfaatan media digital memperkuat efektivitas komunikasi organisasi dalam menjangkau masyarakat luas. Namun demikian, tantangan seperti penyebaran informasi yang cepat, potensi kesalahan komunikasi, serta krisis informasi menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, diperlukan strategi media relations yang adaptif dan profesional untuk menjaga citra organisasi.
Analisis Krisis E Government Public Relation Di Indonesia : Tantangan Dalam Komunikasi Publik Digital Alicia Rara Giska; Faradila Andara; Putri Anisa Rahmadani; Naufal Athiya Primananda
CITACONOMIA : Economic and Business Studies Vol. 5 No. 02 (2026): April - Juni
Publisher : CITACONOMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/citaconomia.v5i02.3381

Abstract

Transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan telah mendorong intensifikasi pemanfaatan media digital sebagai sarana komunikasi publik yang strategis, dimana Government Public Relations (GPR) berperan sebagai instrumen vital dalam membangun kepercayaan masyarakat dan menjaga reputasi institusi pemerintah di tengah derasnya arus informasi. Krisis komunikasi publik di Indonesia kerap dipicu oleh penyebaran misinformasi serta keterlambatan klarifikasi resmi, sehingga kemampuan verifikasi, respons cepat, dan transparansi informasi menjadi faktor penentu legitimasi pemerintah di ruang digital (PR Indonesia, 2025; Dunan, 2020). Melalui analisis konseptual berbasis kajian literatur, penelitian ini menelaah dinamika krisis GPR dengan menekankan pengelolaan informasi krisis, pemanfaatan media sosial, serta penguatan kapasitas komunikasi institusi pemerintah, mengingat kegagalan respons yang cepat dan akurat berpotensi menurunkan kepercayaan publik sekaligus memperburuk eskalasi konflik informasi di ruang digital (Nurfalah et al., 2026; Gunadarma & Masitoh, 2024). Oleh karena itu, strategi komunikasi krisis berbasis digital yang adaptif dan responsif merupakan kebutuhan mendasar guna mendukung efektivitas fungsi GPR di era komunikasi publik yang semakin kompleks dan dinamis.
Press Release Digital Sebagai Strategi Manajemen Krisis Bisnis: Studi Kasus Respons Pinkflash Terhadap Penarikan Produk Oleh BPOM Tahun 2025 Givani Dyah Safitri; Izma Nurul Ana; Afrida Setyaningrum; Naufal Athiya Primananda
CITACONOMIA : Economic and Business Studies Vol. 5 No. 02 (2026): April - Juni
Publisher : CITACONOMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/citaconomia.v5i02.3491

Abstract

Penelitian ini menelaah efektivitas press release berbasis digital yang dipublishkan melalui platform Instagram sebagai instrumen manajemen krisis bisnis dalam kasus penarikan produk kosmetik merek Pinkflasg oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia pada tahun 2025. Dari sudut pandang bisnis, krisis regulatori semacam ini memiliki implikasi langsung terhadap perusahan di pasar kosmetik. Krisis tersebut muncul setelah BPOM mengumumkan penarikan dua varian eyeshadow Pinkflash yang terbukti mengandung pigmen terbatas (restricted pigments) yang tidak diperkenankan penggunaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus Tunggal (single case study). Data diperoleh melalui observasi konten media social Instagram resmi Pinkflash, analisis dokumen pernyataan Perusahaan, serta penulusuran pemberitaan media daring. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh Coombs (2007) dan Image Restoration Theory (IRT) dari Benoit (1995), yang dikontekstualisasikan dalam perspektif manajemen reputasi bisnis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pinkflash menerapkan strategi mortification berupa permintaan maaf public yang dikombinasikan dengan tindakan korektif berupa pemberian kompensasi senilai dua harga produk kepda konsumen terdampak. Press release digital yang disebarkan melalui Instagram terbukti efektif dalam menjangkau konsumen muda secara cepat, meskipun memiliki kertebatasan dri sisi kredibilitas institusional dibandingkan rilis resmi melalui media konvensional. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar Perusahaan produk konsumen mengintegrasikan press release digital dengan saluran komunikasi formal untuk mengoptimalkan efektivitas manajemen krisis di era media social sekaligus menjaga kepercayaan pemangku kepentingan bisnis.