Melvira, Lia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Transformation of Tarutung City into a Religious Tourism Destination, 1880–1990 Anwar, Syaiful; Fauzan, Rusydi; Melvira, Lia
Warisan: Journal of History and Cultural Heritage Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : Mahesa Research Center (PT. Mahesa Global Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/warisan.v7i1.3085

Abstract

This study examines the spatial transformation of a region from an agrarian area into a centre of religious significance. The material object of this research is Tarutung City, which, based on its etymological origin, should have been recognised as the “Durian City.” However, over time, Tarutung has become widely recognised as a religious tourism destination. This transformation is closely linked to the activities of German missionaries since the 1860s, who established Tarutung as a central hub of zending activities in the Silindung region. From the period of Indonesian independence to the present, Tarutung has been predominantly identified as a destination for spiritual tourism, while its original association with durian has gradually faded. This study employs the historical method to trace the socio-cultural and physical changes that illustrate the city's transition from an agrarian landscape into a centre of Protestant Christian spirituality. The preliminary assumption suggests that Tarutung was strategically managed within a colonial regional policy aimed at separating Islamic movements in Aceh and Minangkabau. This spatial policy not only persisted but became further consolidated after Indonesia’s independence, positioning Tarutung as a prominent Protestant religious centre that continues to endure to the present day.
Olahraga Pacu Kuda sebagai Warisan Sejarah Budaya di Kota Bukittinggi Tahun (1889-1945) Melvira, Lia; Anwar, Syaiful
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37528

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji Olahraga Pacu Kuda Sebagai Warisan Sejarah Budaya Di Kota Bukittinggi. Bukittinggi merupakan sebuah kota yang terletak di Sumatera Barat yang dikenal sebagai salah satu pusat warisan sejarah dan budaya yang kaya, terutama selama priode kolonial. Bukittinggi pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock. Pada priode Belanda pacu kuda berkembang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Minangkabau. Dikawasan Bukik Ambacang, Belanda membangun arena pacu kuda sebagai bagian dari fasilitas hiburan dan olahraga bagi para pejabat serta masyarakat Eropa yang tinggal disana. Pacu kuda Bukik Ambacang diresmikan Belanda pada tahun 1889 yang dikenal dengan nama galanggan Bukik Ambacang. Galanggang ini merupakan galangang tertua di Indonesia dan juga merupakan pelopor olahraga pacu kuda di Sumatera Barat. Sejak diresmikan tahun 1889 gelanggang ini bernaung dibawah Renbond (organisasi pemerintah Belanda) dan setiap tahunnya diadakan pacuan kuda pada hari-hari tertentu, seperti hari-hari pasar dan hari ulang tahun ratu Belanda, hingga saat ini berkembang menjadi destinasi pariwisata warisan sejarah di Kota Bukittinggi yang dikenal dengan olahraga pacu kuda. Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah metode deskriptif naratif dengan metode penelitian sejarah. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah sember primer dan sekunder. Sumber primer dapat berupa Arsip Belanda, Surat Kabar yang terkait dengan judul penelitian, sedangkan sumber skunder dengan meneliti artikel buku, jurnal terkait dengan judul penelitian yaitu tentang Olahraga Pacu Kuda Sebagai Warisan Sejarah Budaya Di Kota Bukittinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama masa kolonial dan menjelang kemerdekaan, pacu kuda menjadi simbol kekuatan dan keberanian masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pacu kuda yang didominasi kolonial Belanda di bukittinggi, mulai dari perkembangan pacu kuda perbandingan model pacu kuda, termasuk pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Melalui analisis terhadap dokumentasi sejarah penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah perkembangan olahraga pacu kuda Bukik Ambcang tahun 1989 dan pristiwa sejarah yang terkandung dalam olahraga pacu kuda. Dengan demikian, pacu kuda Bukittinggi tidak hanya dikenang sebagai sebuah olahraga, tetapi juga sebagai simbol warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan.