Ranti An Nisaa, Ranti An Nisaa
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Introduksi Budidaya Mikroalga Aurantiochytrium sp. Bernilai Ekonomis Tinggi Bagi Warga Pulau Pari, Kepulauan Seribu Hutari, Andri; Ranti An Nisaa, Ranti An Nisaa; Suhendra, Suhendra; Ramadhani, Sintha; Aslamia, Qurrota; Iqbal, Muhammad Yustinian
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): Mei (In Progress)
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/988d8r16

Abstract

Salah satu keanekaragaman hayati yang terdapat di pulau Pari dan kurang disadari adalah kelimpahan dan potensi mikroalga. Masyarakat belum menyadari bahwa di pulau Pari terdapat mikroalga yang bernilai ekonomi tinggi yang memerlukan terobosan dalam pemanfaatannya dan juga pelestarian ekosistem habitatnya. Hutan mangrove merupakan habitat dari beberapa mikroalga eukariotik yang bernilai ekonomi tinggi, seperti Aurantiochytrium sp. yang telah berhasil diisolasi dari hutan mangrove pulau Pari. Hutan mangrove yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna menjadi faktor penarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke pulau ini serta sekaligus menjadi faktor pendorong bagi masyarakat untuk mengembangkan wisata bahari sebagai mata pencaharian alternatif. Dengan demikian perlu adanya edukasi pengenalan mikroalga kepada warga pulau terkhusus yang menekuni sektor wisata bahari. Kegiatan ini diharapkan membekali masyarakat pulau agar lebih menyadari akan potensi mikro yang tidak tampak mata namun dapat memberikan dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat pulau. Kegiatan dilakukan dengan pemberian materi mikroalga terhadap warga sebanyak 24 peserta dalam bentuk presentasi dan buku saku yang telah disediakan. Kegiatan diawali dengan pemberian soal pretest dan diakhiri dengan pemberian soal posttest serta angket tanggapan kegiatan. Skor pretest yang diperoleh 42,61 sedangkan posttest 39,57. Dengan demikian telah terjadi penurunan pemahaman terhadap mikroalga. Hal ini diduga karena adanya kesalahan dalam tahapan pelaksanaan, yakni buku saku diberikan di awal kegiatan. Saat pretest warga sudah mencari tahu jawabannya dari buku saku tersebut, sedangkan saat posttest warga sudah tidak fokus menjawab karena hendak segera pulang sehingga mengisi dengan asal. Harapannya dengan warga memiliki wawasan tentang mikroalga dapat mengedukasi masyarakat, wisatawan, dan pengunjung pulau akan pentingnya pelestarian hutan mangrove yang merupakan habitat mikroalga serta membuka potensi peluang lain dari mikroalga