Indeks Pertanaman (IP) 300 padi sawah di Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan, telah meningkatkan volume produksi padi secara signifikan, namun sekaligus memperlebar kesenjangan pada sistem pascapanen yang masih didominasi metode tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun prioritas strategi sistem pascapanen padi sawah pada tingkat petani skala kecil sebagai respons terhadap tantangan intensifikasi produksi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan kombinasi kualitatif dan kuantitatif melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) terhadap 12 narasumber kunci. Hasil analisis menunjukkan bahwa kriteria Modal memiliki bobot tertinggi (0,4081) sebagai faktor pengungkit utama, diikuti oleh Sarana dan Prasarana (0,1893) serta Teknologi (0,1820). Pada level sub-kriteria, Keuntungan Bersih Musim Tanam (0,2979), Lantai Jemur (0,1221), dan Ketersediaan Dryer (0,1116) menjadi prioritas global yang mendesak, mengonfirmasi bahwa kendala ekonomi dan hambatan teknis pengeringan gabah adalah masalah utama (bottleneck) dalam sistem pascapanen. Sintesis akhir menetapkan Strategi Kebijakan dan Insentif Pemerintah yang Terintegrasi (A4) dengan bobot 0,3155 sebagai strategi prioritas utama. Strategi ini dianggap paling efektif karena mampu secara simultan mengatasi keterbatasan modal, menjamin stabilitas harga, dan menyediakan infrastruktur pengeringan secara kolektif. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa landasan strategis bagi pengambil kebijakan lokal untuk mengembangkan roadmap pascapanen yang berkelanjutan bagi petani skala kecil di wilayah intensifikasi padi.