Latar belakang: Prevalensi gizi kurang pada balita di Indonesia masih tergolong tinggi meskipun menunjukkan tren penurunan, dengan angka stunting sebesar 21,6% dan wasting 7,7% pada tahun 2022, yang menurun menjadi 19,8% dan 7,4% pada tahun 2024. Dari kondisi ini, diperlukan intervensi gizi yang berkelanjutan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dari formulasi terhadap nilai gizi kuantitatif, mutu organoleptik dan taraf perlakuan terbaik pada Chikun Wonton untuk balita gizi kurang. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan desain penelitian rancangan acak lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan meliputi rasio perbandingan antara ikan kuniran dan daging ayam (P1 50:50, P2 40:60, dan P3 30:70). Jumlah panelis adalah 30 orang. Kandungan nilai gizi dan mutu protein dianalisis melalui perhitungan empiris, mutu organoleptik dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskall Wallis, yang akan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney saat hasilnya signifikan. Hasil: Penentuan formula terbaik dilihat dari hasil perhitungan Nilai Hasil (Nh). Nh tertinggi didapatkan pada perlakuan 1 (P1), sehingga perlakuan P1 merupakan formula terpilih. Dalam P1 memiliki nilai gizi: energi 283 kkal, protein 14,43 gram, lemak 14,97 gram, dan karbohidrat 26,99 gram; mutu protein: Skor Asam Amino (SAA) 100, Mutu Cerna (MC) 96,88, Net Protein Utilization (NPU) 96,88 dan Biological Value (BV) 100; dan mutu organoleptik : warna 3,3, aroma 3,27, tekstur 3,37 dan rasa 3,2. Kesimpulan: Perlakuan P1 merupakan formulasi terbaik karena memiliki kandungan energi, protein, dan lemak tertinggi serta mutu protein yang baik dengan profil asam amino esensial lengkap dan mudah dicerna. Secara organoleptik, P1 unggul pada aroma dan tekstur serta bersama P2 memiliki rasa terbaik, sementara P2 unggul pada warna. Berdasarkan nilai Nh tertinggi (0,75), P1 ditetapkan sebagai perlakuan terbaik.