Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Fenomena “Double Entry”: Dampak Ketidaksiapan Interoperabilitas SIMRS dengan Aplikasi SatuSehat Muharani, Defrika; Amri, Primaceria; Sari, Regi Faula; Hartono, Budi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7951

Abstract

Fenomena double entry dalam sistem informasi rumah sakit menjadi salah satu tantangan utama dalam implementasi digitalisasi layanan kesehatan di Indonesia, khususnya setelah diterapkannya integrasi dengan aplikasi SatuSehat. Ketidaksiapan interoperabilitas antara Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan platform nasional tersebut menyebabkan tenaga kesehatan harus melakukan pencatatan data secara ganda, yang berpotensi menurunkan efisiensi kerja, meningkatkan beban administratif, serta memicu risiko kesalahan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak fenomena double entry serta mengidentifikasi faktor penyebab ketidaksiapan interoperabilitas antara SIMRS dan aplikasi SatuSehat. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif dan sistematis terhadap berbagai jurnal nasional dan internasional yang relevan dalam rentang tahun 2015–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa fenomena double entry dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu perbedaan standar data, keterbatasan infrastruktur teknologi, kurangnya kesiapan sumber daya manusia, serta belum optimalnya regulasi dan implementasi interoperabilitas sistem. Dampak yang ditimbulkan meliputi penurunan efisiensi pelayanan, peningkatan waktu kerja tenaga kesehatan, serta potensi ketidakkonsistenan data pasien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa interoperabilitas yang belum optimal antara SIMRS dan SatuSehat menjadi penyebab utama terjadinya double entry yang berdampak signifikan terhadap kualitas layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis berupa standarisasi data, penguatan infrastruktur teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta dukungan kebijakan yang lebih terintegrasi.
Analisis Deskriptif Proses Data to Information dalam Mendukung Pengambilan Keputusan di Fasilitas Kesehatan Sari, Regi Faula; Muharani, Defrika; Amri, Primacaeria; Hartono, Budi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8344

Abstract

Transformasi data menjadi informasi merupakan komponen krusial dalam sistem informasi kesehatan yang berperan penting dalam mendukung pengambilan keputusan di fasilitas pelayanan kesehatan. Ketersediaan data yang melimpah tidak secara otomatis menghasilkan keputusan yang tepat apabila tidak diolah secara sistematis, akurat, dan berkualitas. Permasalahan yang sering dihadapi dalam proses ini meliputi data yang tidak lengkap, inkonsistensi pencatatan, keterlambatan pelaporan, serta rendahnya pemanfaatan informasi dalam proses manajerial dan klinis. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan data dan pemanfaatannya sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi data menjadi informasi (data to information) dalam mendukung pengambilan keputusan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas proses tersebut. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif terhadap berbagai jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan dalam rentang tahun 2016 hingga 2026. Analisis difokuskan pada aspek kualitas data, proses pengolahan data, serta tingkat pemanfaatan informasi dalam pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas proses data to information sangat dipengaruhi oleh kualitas data yang dihasilkan, kompetensi sumber daya manusia dalam mengelola data, serta dukungan sistem informasi yang memadai. Proses yang optimal mencakup tahapan persiapan, pelaksanaan, hingga pemanfaatan informasi secara menyeluruh. Keterbatasan pada salah satu tahapan tersebut dapat menghasilkan informasi yang kurang akurat, sehingga berdampak pada kualitas keputusan dan kinerja fasilitas kesehatan. Kesimpulannya, diperlukan penguatan sistem informasi kesehatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penerapan pengelolaan data yang terstruktur dan berkelanjutan guna mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi yang akurat dan tepat waktu.
Evaluasi Perbandingan Unit Cost Rumah Sakit dan Tarif Indonesia Case Based Groups pada Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Sari, Regi Faula; Muharani, Defrika; Amri, Primacaeria; Hartono, Budi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8511

Abstract

Pelayanan kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu prioritas utama dalam sistem kesehatan, yang memerlukan pembiayaan yang efisien dan berkelanjutan. Dalam implementasinya, rumah sakit menggunakan perhitungan unit cost sebagai dasar untuk mengetahui perhitungan unit cost sebagai dasar untuk mengetahui biaya riil pelayanan, sementara pemerintah menetapkan tarif melalui sistem Indonesia Case Based Groups (INA-CBGs). Perbedaan antara unit cost dan tarif INA-CBGs sering menjadi permasalahan yang berdampak pada efisiensi pembiayaan dan keberlanjutan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbandingan antara unit cost rumah sakit dan tarif INA-CBGs pada pelayanan kesehatan ibu dan anak. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif terhadap jurnal nasional dan internasional yang dipublikasikan pada tahun 2016–2026. Analisis difokuskan pada kesesuaian biaya riil dengan tarif yang ditetapkan serta implikasinya terhadap kinerja rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, unit cost pelayanan kesehatan ibu dan anak lebih tinggi dibandingkan tarif INA-CBGs, sehingga menyebabkan sebagian rumah sakit memiliki Cost Recovery Rate (CRR) di bawah 100%. Kondisi ini berdampak pada kinerja operasional dan keuangan rumah sakit. Selain itu, diperlukan strategi penyesuaian tarif berbasis biaya riil serta penguatan sistem costing melalui tahapan yang sistematis. Kesimpulannya, penyesuaian tarif INA-CBGs dan peningkatan efisiensi rumah sakit menjadi kunci dalam mencapai keseimbangan antara biaya riil dan pembiayaan layanan kesehatan.