Minat terhadap kegiatan paduan suara di berbagai institusi Indonesia, seperti sekolah, universitas, tempat ibadah, perkantoran, dan kelompok independen, menunjukkan perkembangan pesat dan semakin diakui sebagai wadah pembinaan musikal (Bourdieu et al., 2024). Pertumbuhan ini belum sepenuhnya diimbangi perhatian sistematis terhadap proses pembentukan vokal, sehingga masih dijumpai persoalan intonasi, kualitas resonansi, kurangnya harmonisasi, blending suara, serta keselarasan dinamika (balancing) dalam penampilan paduan suara (Zakarias Aria Widyatama Putra et al., 2023). Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan gaya bel canto sebagai pendekatan teknik pembentukan vokal pada paduan suara. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang dipadukan dengan analisis deskriptif komparatif terhadap konsep bel canto dan relevansinya bagi praktik paduan suara. Instrumen penelitian berupa lembar analisis berbasis indikator teknik bel canto, yaitu postur tubuh, pernapasan (appoggio), pengelolaan register, resonansi, dan artikulasi, yang dalam literatur diakui sebagai elemen penting produksi suara yang stabil, resonan, dan ekspresif (Sarasvati et al., 2023). Data dikumpulkan melalui dokumentasi buku, artikel ilmiah, dan sumber primer bel canto yang merujuk pada pemikiran Pamelia S. Phillips, James Stark, dan G.B. Lamperti, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian konseptual yang kuat antara prinsip bel canto dan kebutuhan teknik vokal paduan suara. Temuan ini menegaskan potensi adaptasi sistematis teknik bel canto sebagai landasan pedagogi vokal paduan suara untuk meningkatkan kualitas produksi suara, kontrol pernapasan, dan kesatuan bunyi antar anggotanya.