Pesantren tradisional sebagai sebuah basis kultural Nahdaltul Ulama, selama ini lembaga pendidikan tertua di Indonesia tersebut, didalam konteks akademis seringkali ditampikkan peranannya dan cenderung mempunyai ‘prasangka ilmiah’). Hal itu justru berbanding terbalik dengan pengkajian lembaga pendidikan Islam yang berafiliasi dengan kalangan Islam modernis. Kalangan pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, padahal didalam konteks sejarah mempunyai peranan yang signifikan, utamanya dalam menanamkan sikap kebangsaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Tercatat didalam sejarah beberapa peristiwa yang diprakaarsai kelangan tradisionalis pesantren, baik sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia, seperti piagam kebangsaan, resolusi jihad, keputusan muktamar mengenai dasar negara dan sebagainya. Didalam membina sikap kebangsaan serta persatuan dan kesatuan, uniknya rasa sikap tersebut justru dikuatkan berdasar kepada tradisi ajaran Islam yang selama ini cenderung diperdebatkan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengkaji lebih jauh bagaimana tipe pola pembentukan sikap wathaniyah (kebangsaan) yang dihabituasikan di lingkungan pesantren, terlebih lagi bagaimana penyelarasan sikap kebangsaan yang dilegitimasikan oleh ajaran Islam tersebut dilingkungan pesantren. Pendekatan peneitian yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus Purwakarta. Pesantren tersebut dipilih tidak lain merupakan salah satu pesantren tradisional terbesar dan tertua di Jawa Barat berdiri sejak 1840. Kemudian ditengah menurunnya rasa akan sikap kebangsaan serta rasa persatuan dan kesatuan, sudah seharusnya bahwa penanamaran rasa sikap kebangsaan dan penguatan persatuan kesatuan sebagai sebuah bangsa, harus terus dikuatkan kembali terhadap setiap individu..Keywords:Tipe Pola, Nilai Islam, Pesantren
Copyrights © 2018