Proses pembelajaran
bahasa Indonesia dewasa ini mulai dirasakan lebih variatif. Melalui
pembelajaran kontekstual, pembelajaran bahasa memiliki kebermaknaan yang
tinggi. Tentu saja semua itu harus disertai dengan penguasaan materi kebahasaan
yang memadai. Pembelajaran tidak lagi berorientasi pada guru sebagai pusat sari
segalanya. Paradigma siswa sebagai pusat aktivitas ternyata mampu membawa
keberhasilan pembelajaran secara komprehensif. Verbalisme dalam pembelajaran
tidak lagi sebagai suatu yang paling penting, karena berbuatlah yang diyakini
mampu menghasilkan sesuatu lebih baik. Pembelajaran yang konstruktivistik mampu
membangkitkan gairah yang luar biasa bagi siswa, dan pada gilirannya dapat
mengoptimalkan kreasi siswa.
Copyrights © 2009