Abstrak: Dalam konteks globalisasi, transformasi, budaya sedang semakin dianalisis sebagai proses hibridisasi. Hibriditas itu sendiri, bagaimanapun, sering dianggap sebagai fenomena khusus postkolonial dan diskusi jarang mengatasi batas-batas yang sempit dalam bidang kajian tersebut. Dalam disiplin ilmu lainnya, istilah hibriditas dan hibridisasi digunakan untuk mengkarakterisasi fenomena yang mudah terdeteksi sebagai entah bagaimana "borderline" kajian kebudayaan tapi tidak begitu mudah dijelaskan. Hal ini disebabkan karena pemaknaan yang sangat luas tentang hibriditas lebih-lebih selalu dikaitkan dengan kebudayaan yang memiliki perangkat yang sangat luas. Dengan adanya istilah tersebut, bahkan kebudayaan mengalami penafsiran yang ditransmisikan pada kelompok lain melalui proses enkulturasi yang pada saatnya menimbulkan pandangan baru yang khas dalam memandang dunia dengan bentuk aturan-aturan yang dibakukan atas dasar konsesus bersama, sehingga memberi peluang terciptanya pilihan-pilihan yang konsisten dan sistematik berwujud gaya hidup, gaya pakaian, gaya bangunan, dan gaya seni. Dari hal tersebut diatas dapat dikatakan bahwa kesenian cilokaq yang terdapat pada msyarakat Lombok merupakan produk budaya dari masyarakat Lombok sendiri tanpa mengesampingkan hibriditas budayanya. Kesenian cilokaq tersebut lahir dari interaksi sosial masyarakat dengan lingkungannya
Copyrights © 2021