Alternatif pemenuhan air minum dipenuhi melalui adanya air minum isi
ulang dengan berbagai proses pengolahannya seperti proses ozonisasi, ultraviolet
(UV), maupun reversed osmosis (RO). Namun, peningkatan keberadaan depot air
minum isi ulang di kalangan masyarakat belum diimbangi peningkatan kualitas air
minum yang dihasilkan.
Penelitian ini merupakan jenis deskriptif yang bertujuan menggambarkan
kualitas air minum isi ulang berdasarkan proses ozonisasi, UV, dan RO.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster sampling, dengan jumlah
sampel sebanyak 20 sampel air minum pada perusahaan AMDK dan DAMIU
yang ada di kecamatan Kota Tengah dan Kota Selatan, terdiri dari 16 sampel
untuk proses ozonisasi, 2 sampel untuk proses UV, dan 2 sampel untuk proses
RO. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif melalui grafik pada masingmasing
variabel dengan merujuk pada Permenkes RI No.
492/Menkes/Per/IV/2010.
Hasil penelitian menunjukkan kualitas air minum ditinjau dari proses
ozonisasi, UV, dan RO berdasarkan parameter fisik (TDS) dan kimia (pH) masih
memenuhi standar kesehatan, dengan nilai maksimal TDS pada sampel air
ozonisasi adalah 106, proses UV adalah 166, dan proses RO adalah 119, dengan
standar maksimal TDS 500 mg/l. Untuk parameter kimia, niLai pH maksimal
pada sampel air minum ozonisasi adalah 7,6, proses UV adalah 7,5, dan proses
RO adalah 119, dengan standar pH adalah 6,5-8,5. Namun untuk parameter
mikrobiologi (total koliform), hanya 69% air minum dengan proses UV yang
memenuhi standar Permenkes yaitu 0, 31% atau 5 dari 16 sampel tidak memenuhi
standar, dengan total koliform maksimal adalah 96 per 100 ml sampel.
Dari hasil pengamatan dan mempertimbangkan efek yang dihasilkan dari
masing-masing proses pengolahan, dapat disimpulkan bahwa air minum dengan
proses reversed osmosis (RO) memiliki kualitas terbaik.
Kata Kunci : Air minum isi ulang, proses ozonisasi, proses ultraviolet,
proses reversed osmosis.
Copyrights © 2012