Pemahaman teks-teks keagamaan yang tidak komprehensif menjadi awal tuduhan atas ketidaksesuaian konsep gender dan feminism dengan ajaran Islam. Sebagian feminis menyebutnya dengan interpretasi agama yang patriarkis. Namun seringkali feminis muslim terjebak dan hanya focus pada pemahaman ulang atas wacana agama dan tidak memperhatikan bagaimana pemahaman-pemahaman baru tersebut dapat diterapkan. Feminis sosialis yang lebih cenderung memperhatikan aspek sosial di dalam masyarakat memiliki pemikiran yang lebih aplikatif. Penelitian ini berusaha untuk menggabungkan kedua corak pemikiran feminism tersebut dalam rangka optimasi kesetaraan gender. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini dilengkapi data primer dari karya empat tokoh yang dijadikan sampel penelitian, yakni Nawal El-Saadawi dan Michel Foucault sebagai representasi dari feminis social serta Amina Wadud dan Faqihuddin Abdul Kodir sebagai representasi dari feminis Islam. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa pemikiran feminis Islam yang lebih menitikberatkan pada reinterpretasi agama dapat dipadukan dengan pemikiran feminis sosialis yang banyak berfokus pada kajian kekuasaan yang patriarkis. Implementasi kajian agama yang moderat dapat dilakukan melalui konsep kekuasaan yang tidak patriarkis. [The incomprehensible understanding of religious texts is the beginning of accusations of incompatibility between the concepts of gender and feminism with Islamic thoughts. The feminists call it a patriarchal interpretation of religion. However, Islamic feminists are often trapped and only focus on re-understanding religious discourse and ignore how these new understandings can be applied. Socialist feminists who tend to pay more attention to social aspects in society have more applicable thoughts. This study seeks to combine the two styles of feminist thought to optimize gender equality. This study used qualitative research methods and used primary sources from four feminists expert, namely Nawal El-Saadawi, Michel Foucault, and as socialist feminists Amina Wadud and Faqihuddin Abdul Kadir as an Islamic feminist. The results said that Islamic feminist thought, which focuses more on religious reinterpretation, can be combined with socialist feminist thought, which focuses on studying patriarchal power. Implementing religious moderation studies can be done through the intermediary of the non-patriarchal power.]
Copyrights © 2023