The threat of losing successors to speakers of regional languages is a common problem that needs to be reviewed together. The way that can be done to attract the interest of the younger generation to learn local languages is to use social media. One of the existing social media butts makers is Hi.kaaal which produces localized butts trending on Tiktok. This research was conducted to reveal the form of transmission that occurs in hi.kaaal's stump localization. The method used in this study is a descriptive-qualitative method with a recipe approach by Jauss. Butts adapted from foreign trends on Hi.kaaal's butts total of 12 videos, five videos in Javanese script, 3 Javanese in Latin script, and 3 Indonesian videos in Jawi script. The form of acceptance found shows two different language styles; in Javanese, the literal meaning is used with Javanese Krama, and some Old Javanese vocabulary is found. Meanwhile, Indonesian uses a more foreign language or is rarely used in everyday life. The form of localization that was carried out succeeded in attracting the interest of many parties who wanted to study regional languages and scripts. Therefore, efforts to preserve culture must indeed keep up with the times, and this is intended so that regional languages and scripts do not seem old-fashioned and cannot adapt to changing times. AbstrakAncaman hilangnya penerus penutur bahasa daerah menjadi permasalahan bersama yang perlu ditinjau bersama. Cara yang dapat dilakukan untuk menarik minat generasi muda belajar bahasa daerah adalah dengan menggunakan media sosial. Salah satu pembuat konten media sosial yang ada adalah Hi.kaaal yang menghasilkan konten pelokalan pada tren di Tiktok. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap bentuk transmisi yang terjadi pada pelokalan konten milik hi.kaaal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif dengan pendekataan resepsi oleh Jauss. Konten yang diadaptasi dari tren luar negeri pada konten Hi.kaaal berjumlah 12 vidio, 5 video berbahasa dengan aksara Jawa, 3 berbahasa Jawa dengan aksara latin dan 3 vidio berbahasa Indonesia dengan aksara Jawi. Bentuk resepsi yang ditemukan menunjukan dua gaya bahasa yang berbeda, pada bahasa Jawa digunakan arti literal dengan bahasa Jawa Krama dan ditemukan beberapa kosakata Jawa Kuna. Sedangkan pada bahasa Indonesia menggunakan bahasa yang lebih asing atau jarang digunakan pada kehidupan sehari-hari. Bentuk pelokalan yang dilakukan berhasil menarik minat banyak pihak yang ingin untuk mendalami bahasa dan aksara daerah. Oleh karena itu, upaya pelestarian budaya memang seharusnya mengikuti perkembangan jaman, hal ini bertujuan untuk membuat bahasa dan aksara daerah tidak terkesan kuno serta tidak bisa beradaptasi dengen bergeseran jaman.
Copyrights © 2022