Tahun 2018 merupakan titik balik bagi kota Palu, Sigi, dan Donggala untuk menjadi destinasi yang paling terkenal, bukan saja di Indonesia, tetapi di seluruh penjuru dunia. Ketiga wilayah ini diterpa bencana yang dahsyat, yaitu gempa, tsunami, dan likuifaksi. Dampak dari gempa tersebut menyisakan puing-puing kisah dalam berbagai versi, salah satunya adalah kisah Sastra Lingga Adiamaru, penulis muda berbakat dari kota Palu yang mengemas kembali kisah tersebut dalam novel yang berjudul “28 September: dalam Tragedi 7,4 Magnitudo”. Kajian terhadap novel ini akan dilakukan dalam kerangka sastra perjalanan. Dia mengungkap kembali jejak-jejak keindahan kota Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) yang tergerus oleh dahsyatnya fenomena alam dalam untaian kata-kata. Guratan tinta yang dikreasikan oleh Sastra menawarkan sebuah perjalanan menelusuri Pasigala dalam kisah romantis tokoh yang diusung, yaitu Taufiq. Metode yang digunakan untuk mengupas novel ini adalah metode kualitatif. Naskah dianalisis menggunakan teori sastra perjalanan penggambaran dunia Carl Thompson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggambaran dunia dalam novel ini menggunakan alat berupa perpindahan (movement), waktu dan tempat (space), dan (pertemuan). Tempat yang digambarkan yaitu Kota Palu, Kampung Nelayan, Kelurahan Balaroa, Kelurahan Petobo, dan Masjid Terapung
Copyrights © 2023