Abstract RELIGIOUS GUIDANCE MODEL OF STREET CHILDREN IN PANTURA, The phenomenon of street children in Indonesia is a complex social issue. In every year of their existence are constantly undergoing significant development. Their existence has raised a new round of social exploitation by making them human periphery. Street children is a reality that is continuous to be examined. Their existence was always present as a problem that no end of its roots. The reality was very complex so that demands careful handling, serious, focused and continuous. The result of this research shows that the model of religious guidance in the area of the former County of Pati use fusion model because it was implemented by TKSK (Sub-district Volunteers Welfare Labor) under the Social Service and integrated with educational activities and exercise, as well as by volunteering independently. The third model of the religious guidance of street children that is in Kudus, Pati and Rembang, the religious guidance model in Kudus implemented by volunteers independently that have a uniqueness and advantages. In addition to the hours of work done by following street children and carried out in the places where they make a living, the guidance which was held in Kudus took place in a relaxed atmosphere, and performed by the teens so that authors call it peer counseling. As for the impact of religious guidance against street children; increased understanding of their religion, but not so significantly affect behavior change and their religiosity. Keywords: Religious Guidance Model, Street Children, Religiosity Abstrak Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia merupakan persoalan sosial yang komplek. Dalam setiap tahun keberadaan mereka senantiasa mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Keberadaan mereka telah memunculkan babak baru eksploitasi sosial dengan menjadikan mereka manusia pinggiran. Anak jalanan merupakan realitas yang tiada henti untuk dikaji.  Keberadaan mereka senantiasa hadir sebagai permasalahan yang tak ada ujung pangkalnya. Realitasnya sangat komplek sehingga menuntut penanganan yang cermat, serius, terfokus dan kontinu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model bimbingan agama di wilayah Eks Karesidenan Pati menggunakan model perpaduan karena dilaksanakan oleh , TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sukarelawan Kecamatan) di bawah Dinas Sosial dan terintegrasi dengan kegiatan pendidikan dan latihan, serta oleh relawan secara mandiri. Dari ketiga model bimbingan agama anak jalanan yang ada di Kudus, Pati dan Rembang, model bimbingan agama di Kudus yang dilaksanakan oleh relawan secara mandiri memiliki keunikan dan kelebihan. Di samping dilakukan dengan mengikuti jam kerja anak jalanan dan dilaksanakan di tempat-tempat mereka mencari nafkah, bimbingan yang dilaksanakan di Kudus berlangsung dalam suasana santai, dan dilakukan oleh para remaja sehingga penulis menyebutnya konseling sebaya. Adapun dampak bimbingan agama terhadap anak jalanan; meningkat pemahaman agama mereka, tetapi tidak begitu signifikan mempengaruhi perubahan perilaku dan  keberagamaannya. Kata Kunci: Model Bimbingan Agama, Anak Jalanan, keberagamaan
Copyrights © 2014