Masyarakat menghegemoni bahwa NU adalah kelompok islam tradisionalis karena menjalankan praktik keagamaan dengan memasukkan budaya dan tradisi. Makalah ini bertujuan untuk menganalisa Interaksi Sosial Budaya Nahdlatul ‘Ulama dalam perspektif Hybrid Interaction. Makalah ini menyatakan bahwa, interaksi sosial budaya oleh NU membentuk pembangunan, hak asasi manusia, dan budaya dalam masyarakat. Adanya dikotomi, menimbulkan fanatisme dari anggota yang memperkeruh perdebatan diantara keduanya. Sebagai analisis, makalah ini menggunakan teori pada pada Hybrid Interactions: Human Rights and Development in a Cultural Perspective dari Jan Servaes dan Chris Verschooten (2007: 45-57). Terbagi dalam tiga dikotomi teori. Pertama, Tradition and Modernity menjelaskan tentang mempertahankan budaya atau mengikuti zaman. Konsep Islam yang ditawarkan adalah Al-Maslahah ( مصلحة) menjelaskan tentang sesuatu yang baik ada untuk kebaikan. Kedua, Universality and Relativism, menegaskan tentang terbatas atau luasnya pandangan terhadap budaya, konsep Islam yang ditawarkan adalah Al-Ta’aruf (التعارف) yaitu anjuran saling mengenal. Ketiga, Individualism and Collectivism, membahas tentang ikatan dalam budaya kolektif atau individualis, adapun konsep Islamnya adalah Al-Ta’awun (التعاون) yaitu anjuran saling menolong sebagai sesama manusia. Hasil temuan yaitu NU mempertahankan tradisi, pandangannya universal tentang agama, dan membangun masyarakat secara kolektif. Sebagai refleksi, sikap tradisionalis NU tidak dapat disalahkan. Sebagai implikasi, budaya semakin hibrida hingga memaksa manusia menghadapi dikotomi. Sebagai saran, kita sebagai manusia perlu melestarikan budaya yang tidak bertentangan dengan syariat, juga beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Copyrights © 2023