Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RUANG PUBLIK BARU DAN PERUBAHAN SOSIAL: PEMANFAATAN INTERNET UNTUK ADVOKASI DAN DISEMINASI ISU PENUNDAAN PEMILU STUDI KASUS MAFINDO DAN DRONE EMPRIT Rahman, Mila Amalia; Afifah, Zahra Nur; Ma’rifah, Iza; Laras Lestari, Dewi; Heryanto, Gun Gun; Hermansah, Tantan
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 6 No 3 (2023): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v6i3.6109

Abstract

Abstract. This research examines the issue of postponing the 2024 election which has gone viral on social media. The Coordinating Minister for Marves claims that 110 million netizens support postponing the 2024 election, in contrast to what the Founder of Drone Emprit shared: 91% are against and 6% are pro for postponing the election. Researchers focus on analyzing advocacy and disseminating the issue of postponing the 2024 election in new public spaces. Previous research agrees that the internet can disseminate election information and influence society, while this research focuses on Twitter and the role of Mafindo and Drone Emprit in mapping issues. Twitter as social media has become a space for unlimited public discussion, election issues have become a widely discussed discourse. This research aims to understand Twitter as a new public space and social changes in society related to the issue of election delays. Researchers use a qualitative approach and case studies, collecting data using interviews, observations, and literature studies, then analyzing and describing them using a critical paradigm. Researchers found that conversations on Twitter were dominated by narratives of criticism and opposition to the postponement of the 2024 elections, not only by the public but also by politicians, legal experts, observers, and high-ranking party officials. The emergence of figures advocating the postponement of the 2024 elections does not affect public opinion. In this case, the typology of internet users falls into two typologies, namely, disseminator and propagandist typologies.
KOMUNIKASI BUDAYA LEMBAGA NAHDLATUL ‘ULAMA CABANG KARAWANG DALAM PERSPEKTIF HYBRID INTERACTION HUMAN RIGHTS AND DEVELOPMENT Afifah, Zahra Nur; Bakti, Andi Faisal; Hermansah, Tantan
Jurnal Riset Mahasiswa Dakwah dan Komunikasi Vol 5, No 3 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jrmdk.v5i3.25354

Abstract

Masyarakat menghegemoni bahwa NU adalah kelompok islam tradisionalis karena menjalankan praktik keagamaan dengan memasukkan budaya dan tradisi. Makalah ini bertujuan untuk menganalisa Interaksi Sosial Budaya Nahdlatul ‘Ulama dalam perspektif Hybrid Interaction. Makalah ini menyatakan  bahwa, interaksi sosial budaya oleh NU membentuk pembangunan, hak asasi manusia, dan budaya dalam masyarakat. Adanya dikotomi, menimbulkan fanatisme dari anggota yang memperkeruh perdebatan diantara keduanya. Sebagai analisis, makalah ini menggunakan teori pada pada Hybrid Interactions: Human Rights and Development in a Cultural Perspective dari Jan Servaes dan Chris Verschooten (2007: 45-57). Terbagi dalam tiga dikotomi teori. Pertama, Tradition and Modernity menjelaskan tentang mempertahankan budaya atau mengikuti zaman. Konsep Islam yang ditawarkan adalah Al-Maslahah ( مصلحة) menjelaskan tentang sesuatu yang baik ada untuk kebaikan. Kedua, Universality and Relativism, menegaskan tentang terbatas atau luasnya pandangan terhadap budaya, konsep Islam yang ditawarkan adalah Al-Ta’aruf (التعارف) yaitu anjuran saling mengenal. Ketiga, Individualism and Collectivism, membahas tentang ikatan dalam budaya kolektif atau individualis, adapun konsep Islamnya adalah Al-Ta’awun (التعاون) yaitu anjuran saling menolong sebagai sesama manusia. Hasil temuan yaitu NU mempertahankan tradisi, pandangannya universal tentang agama, dan membangun masyarakat secara kolektif. Sebagai refleksi, sikap tradisionalis NU tidak dapat disalahkan. Sebagai implikasi, budaya semakin hibrida hingga memaksa manusia menghadapi dikotomi. Sebagai saran, kita sebagai manusia perlu melestarikan budaya yang tidak bertentangan dengan syariat, juga beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Biografi dan Pemikiran Tokoh Pemimpin Dakwah Islam Mama Ajengan Jenggot (KH. Mushlih Bin Abdurrozi) Afifah, Zahra Nur; Oktaviani, Sandra; Hermansah, Tantan
Robbayana: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 2 No. 1 (2024): Robbayana
Publisher : Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71029/robbayana.v2i1.36

Abstract

Mama Ajengan Jenggot Mushlih, seorang ulama yang lahir di Loji, Karawang pada tahun 1905, mewarisi keturunan dari Bani Hasyim dan Wali Allah. Kiprahnya sebagai pemimpin spiritual tergambar melalui pembentukan Pondok Pesantren Al Mushlih, yang menjadi wakafnya. Keyakinan utamanya terfokus pada pentingnya pendidikan dalam Islam, di mana beliau percaya bahwa pengetahuan adalah kunci bagi pengembangan individu dan kemajuan masyarakat. Konsep moralitas dan karakter menjadi landasan kuat dalam ajaran beliau, menekankan pentingnya mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh dari guru-gurunya, termasuk pejuang kemerdekaan seperti KH. Zainal Mustafa, turut membentuk pemikiran Mushlih. Keterlibatannya dalam Masyumi dan NU, serta pengaruhnya terhadap keponakan dan teman seperjuangannya, mencerminkan peran politik dan militer yang dipegangnya dalam masyarakat Karawang. Kontribusi besar beliau bagi masyarakat Indonesia tercermin melalui dukungannya terhadap pendidikan Islam dan pembangunan pesantren. Pemikirannya menegaskan pentingnya toleransi antar agama dan budaya, dengan mempertahankan nilai-nilai kebaikan dan perdamaian. Secara keseluruhan, KH Mushlih bin H. Abdurrozi memainkan peran krusial dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam yang terfokus pada pendidikan, moralitas, dan keragaman, sementara tetap berpegang teguh pada prinsip Ahlusunnah wal Jama'ah.