Studi kualitatif ini menyelidiki fenomena linguistik bahasa Suroboyoan, dengan fokus khusus pada istilah "cok" seperti yang digambarkan dalam film Yowis Ben. Dengan memanfaatkan data primer dan sekunder, penelitian ini menggunakan model analisis teoretis Charles Sanders Peirce, dengan menekankan bentuk tanda atau simbol. Temuan menunjukkan bahwa "cok" atau "jancuk" memiliki relevansi budaya yang signifikan sebagai istilah yang akrab dan penting dalam komunikasi Surabaya, sering kali menyampaikan konotasi negatif. Makna istilah tersebut dinamis, dipengaruhi oleh penekanan pengucapan, dan dapat menyampaikan berbagai interpretasi. Meskipun dianggap kasar, penggambaran dalam film menunjukkan kompleksitas nuansa dari "cok," menampilkan beragam makna berdasarkan pengejaan individu. Studi ini berkontribusi pada pemahaman dinamika linguistik yang rumit dari bahasa daerah dalam konteks sinematik dan menegaskan perlunya interpretasi yang nuansa terhadap ekspresi linguistik dalam konteks budaya.
Copyrights © 2024