Indonesia dikenal mempunyai dataran hutan yang luas. Hingga tahun 2017, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luasnya mencapai 123.922.474 hektar. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) memiliki dampak yang sangat signifikan terutama di penerbangan dan industri penerbangan secara keseluruhan. Akibat dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi belakangan ini di wilayah provinsi Kalimantan tengah,’ Bandara Tjilik Riwut juga terkena dampak. Karhutla yang terjadi menghasilkan asap, partikel kecil, dan gas beracun yang dapat mencemari udara. Kualitas udara yang buruk ini dapat mengganggu operasi penerbangan karena mengurangi jarak pandang, menghambat navigasi dan mengancam keselamatan penerbangan di bandaran Tjilik Riwut palangkaraya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dimana penelitian ini datanya dinyatakan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa menggunakan teknik perhitungan statistik. Sumber kedua berasal dari penggalian sumber data melalui wawancara secara semi terstruktur kepada informan Officer Apron Movement Control dan Deputi Manager Lion Air dan Staf Informasi BMKG. Selain itu, data dalam penelitian ini dilengkapi dengan observasi dan dokumentasi berupa pengambilan gambar yang berjuan sebagai penguat dalam data penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, maka diketahui bahwa Kebakaran Hutan dan Lahan memiliki dampak pada penerbangan di Bandar Udara Tjilik Riwut, seperti terjadinya penurunan Visibility, Delay, dan mengganggu Kesehatan. Dampak kebakaran hutan dan lahan dalam dunia penerbangan sudah sering terjadi sehingga terciptanya komunikasi antara satu pihak maskapai penerbangan dengan pihak lainnya. Dampak kebakaran hutan dan lahan tentunya tidak dapat dihindari oleh pihak manapun terutama di dunia penerbangan sehingga hanya diperlukan nya sebuah koordinasi atau komunikasi yang baik dalam penyampaian cuaca setiap jam.
Copyrights © 2024