Hubungan kencan atau romantisme merupakan salah satu bagian dari tugas perkembangan yang seharusnya dicapai pada usia dewasa awal. Namun menurut berbagai penelitian, perceraian orangtua di masa anak–anak dapat membawa dampak terhadap keinginan memulai suatu hubungan kencan di usia dewasa awal atau kemungkinan rendahnya kualitas hubungan yang akan terjalin. Namun, hal ini dapat diatasi bila seseorang memiliki tingkat resiliensi yang positif, yang dapat diukur melalui 7 faktor pembentuk resiliensi dari Reivich dan Shatte (2002). Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan guna memahami lebih baik gambaran resiliensi anak–anak korban perceraian orangtua dalam membuka diri dan menjalin hubungan kencan saat memasuki usia dewasa awal.Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologi, yaitu dengan melakukan observasi dan wawancara yang mendalam terhadap kedua subjek penelitian. Subjek penelitian terdiri dari 1 orang wanita dan 1 orang pria. Keduanya menghadapi kondisi konflik rumah tangga antara ayah dan ibu sejak masih usia anak–anak, hingga orangtua mereka memutuskan untuk hidup berpisah. Subjek FZ (pria) saat ini berusia 25 tahun dan DT (perempuan) berusia 27 tahun.Dari penelitian ini didapati bahwa dengan merujuk pada 7 faktor pembentuk resiliensi, kedua subjek memiliki resiliensi yang cenderung positif dimana mereka mampu untuk kembali bangkit dari keterpurukan, masalah ataupun masa lalu yang buruk yang pernah mereka alami termasuk di dalamnya perceraian orangtua maupun kegagalan dalam suatu hubungan romantisme, dan terus membuka diri untuk kembali menjalin hubungan dengan orang – orang baru yang kemudian mereka pilih sebagai kekasih mereka. Keywords: Resiliensi, Perceraian orangtua, Kencan, Dewasa awal
Copyrights © 2020