Sebelum kedatangan Belanda, ada dua pola kepemimpinan dalam masyarakat Kerinci, yaitu masyarakat adat dan ulama, yang berperan penting dalam masyarakat Kerinci dalam menyusun dan menegakkan peraturan yang ada. Kedatangan kolonialisme di Kerinci diyakini telah merusak struktur dan tatanan masyarakat, sehingga masyarakat adat dan para ulama melakukan gerakan-gerakan antikolonial dalam berbagai bentuk dan pola perlawanan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode (library research) dengan pendekatan analisis deskriptif. Perlawanan pribumi dipimpin oleh Depati Parbo yang melakukan strategi gerilya dan membangun benteng di berbagai lokasi di wilayah Kerinci dengan dukungan Depati lainnya. Dalam membentuk pertahanan, komunikasi antardepati yang intens terjadi di antara masyarakat adat. Perlawanan ulama dipimpin oleh H. Ismael, strategi yang digunakan perlawanan ulama untuk memanfaatkan justifikasi agama dengan menjadikan masjid suci sebagai poros utama dan pusat gerakan perlawanan melawan Belanda di berbagai titik di Pulau Tengah.
Copyrights © 2023