Perspektif laki-laki tidak kalah penting dalam isu childfree. Penelitian bertujuan untuk menggali lebih dalam perspektif laki-laki Surabaya terhadap childfree. Penelitian juga menganalisis keanekaragaman laki-laki Surabaya terkait dengan Inclusive Society. Melalui metode kualitatif deskriptif, informan dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling. Hasil menemukan bahwa ketiga suku Jawa, Madura, dan Tionghoa menentang childfree dengan toleransi tertinggi dari suku Jawa. Childfree didasari faktor ekonomi, kondisi sosial, ketidaksiapan mental, dan kepentingan pribadi. Sebaliknya, childfree ditolak karena bertentangan dengan budaya, kewajiban meneruskan keturunan, dan dianggap egois. Isu childfree mengancam budaya suku Jawa, Madura, dan Tionghoa karena berkurangnya generasi penerus untuk melestarikan budaya sekitar. Menurut para pegiat budaya di Surabaya, isu childfree adalah salah satu tren yang akan pudar seiring berjalannya waktu. Childfree adalah fenomena yang mendapat pandangan variatif dari laki-laki berbagai suku di Surabaya.
Copyrights © 2024