Larutan elektrolit adalah jenis larutan yang memiliki kemampuan untuk menghantarkan listrik, sementara larutan nonelektrolit adalah larutan yang tidak mampu menghantarkan listrik. Dalam pelajaran kelas 10 dengan jurusan MIPA, terdapat praktikum yang berfokus pada konsep larutan elektrolit. Banyak siswa di sekolah menengah menghadapi kesulitan dalam memahami konsep-konsep terkait larutan elektrolit dan nonelektrolit. Kendala ini muncul karena siswa SMA/MA mengalami kesulitan dalam mengenali indikator sebenarnya yang membedakan larutan sebagai elektrolit atau nonelektrolit. Siswa sering kali hanya mengandalkan lampu yang menyala sebagai petunjuk bahwa suatu larutan termasuk elektrolit atau nonelektrolit. Kendala ini dalam penguasaan konsep menjadi salah satu hambatan dalam proses pembelajaran kimia, dan dapat berdampak pada hasil belajar yang kurang optimal. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan ide untuk mengembangkan alat deteksi larutan elektrolit dan nonelektrolit yang lebih modern dan lebih mudah dipahami oleh siswa. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah A-LITO, yang merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mendeteksi larutan elektrolit/non elektrolit. A-LITO terdiri dari berbagai komponen, seperti Elektroda, Arduino nano, Sensor Air, Lampu LED, Kabel Jumper, dan LCD 16 x 2. Alat ini digunakan untuk menguji larutan garam, cuka, dan gula. Hasil pengujian menunjukkan bahwa larutan Aquades adalah nonelektrolit, yang ditampilkan pada LCD tanpa adanya gelembung elektroda. Larutan garam menunjukkan sifat elektrolit kuat dengan munculnya gelembung pada elektroda, sementara larutan cuka menunjukkan sifat elektrolit lemah dengan sedikitnya gelembung di elektroda. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 90% siswa memahami pembelajaran praktikum menggunakan A-LITO, sementara 10% siswa mengaku kesulitan memahami pembelajaran tersebut.
Copyrights © 2024