Artikel ini membahas pemikiran tasawuf Syekh Ibnu ‘Ataillah tentang konsep manajemen qalbu terkait penataan dan pembinaan qalbu serta bagaimana merelevansikannya dalam kehidupan modern. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), adapun pendekatan metodologi yang digunakan yakni pendekatan filosofis dan sufistik. Metode pengelolaan data dan analisis data yang digunakan yaitu pendekatan deduktif dan induktif. Beranjak dari urgensitas qalbu yang menjadi titik sentral moral pada diri manusia, baik dan buruk manusia itu berakar dari qalbu, problemnya adalah bahwa sifat dasar hati yang suka berbolak balik atau tidak menetap, terlebih lagi lingkungan dan perkembangan zaman sangat berperan besar mempengaruhi kualitas qalbu, maka sangat penting melakukan manajemen pada qalbu. Syekh Ibnu ‘At{aillah adalah ulama sufi yang banyak mengangkat tema qalbu. Manajemen Qalbu presfektif Syekh Ibnu ‘Ataillah adalah takiyatun nufus dengan tahapan Takhalli, tahalli, dan tajalli, sebagaimana dalam padangannya bahwa jalan dan tahapan terdekat menuju Allah adalah penyempurnaan jiwa dengan cara membersihkan hati dengan adab luhur dan melepas jiwa dari perbudakan hawa nafsu, serta menghiasi jiwa dengan meneladani sifat Allah, hingga sampai akhirnya yang nampak adalah hadirnya sifat-sifat Allah dalam diri seorang hamba. Relevansi ajaran ini terhadap kehidupan modern bahwa ajaran tasawuf Syekh Ibnu ‘Ataillah tidak bertentangan dengan kebutuhan zaman. Sebab dalam pengamplikasiannya seorang muslim tidak dibenarkan meninggalkan dunia seutuhnya, tasawuf yang menekankan tunduk dan pasrahnya hati sembari fisik tetap melakukan asbab (usaha mengejar dunia).
Copyrights © 2024