Arah historiografi Indonesia sejak tahun 1980 an mengalami perkembangan yang pesat. Tema-tema mulai bergeser dari sejarah-orang besar ke sejarah orang-orang kecil atau rakyat biasa. Disertasi Sartono Kartodirdjo mengenai pemberontakan Banten tahun 1988 dengan perspektif Indonesia sentris, memang mendapat perubahan yang besar khususnya pendekatan dan sumber-sumber yang digunakan, juga telah memperoleh banyak pengikut, terutama para muridnya di Universitas Gajahmada dan para sejarawan Indonesia yang dididik di Belanda dalam program kerjasama Indonesia Belanda. Penggunaan sejarah lisan nampaknya berjalan sejajar dengan perkembangan historiografi Indonesia dan historiografi Sejarah Lisan . Walaupun demikian cara-cara di dalam mana sejarawan menggunakan sumber lisan , membaca memeori yang sampai kepadanya masih menjadi problematika. Sikap kritis dan menempatkan obyek (memori) dalam konteks yang lebih luas semestinya dipertimbangkan , agar sejarawan tidak terporosok ke dalam detil-detil yang tak bermakna dan bisa membuat gambaran historis yang komprehensip.Salah satu pendekatan baru yang dimaksud adalah kelompok Subaltern history pada awalnya dikembangkan oleh sejarawan India di penghujung tahun 1980 an. Melalui fusi pendekatan sejarah dan antropologi, di sebut juga sebagai sejarah alternatif. Dia muncul sebagai reaksi terhadap sejarah nasional India yang satandarnya neo imperialis. Ada sebelas jilid buku sejarah Subaltern yang telah diterbitkan. Terlepas dari kritik yang diajukan terhadap pendekatan ini. Yang jelas bahwa pengaruh sejarah Subaltern juga sudah meluas ke Amerika latin. Menurut hemat saya apa esensi yang kita harus ubah jika kita akan mengikuti  kelompok tersebut yaitu mengjejaki perubahan-perubahan metode, asumsi dan proposisi dalam historiografi Indonesia ke depan adalah bagaimana mendefenisikan masalah-masalah dan kemungkinan sejarah harus dilihat sebagai total history seperti yang sudah lama didengun-dengunkan oleh aliran Annales School.
Copyrights © 2016