Dunia pasca-pandemi telah mendorong peralihan ke penetapan sistem kerja jarak jauh atau teleworking sebagai pengaturan kerja permanen bagi sebagian besar perusahaan dan organisasi. Namun, persebaran fisik dari rekan kerja dan adanya ketergantungan pada teknologi pada sistem teleworking menimbulkan penurunan perilaku kerja inovatif karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bentuk knowledge sharing, yaitu tacit dan explicit, dan tingkat psychological safety, terhadap intensi perilaku kerja inovatif pada teleworker atau pekerja jarak jauh. Penelitian ini menggunakan experimental vignette method dengan desain penelitian 2x2 between-subject dan hasil diuji menggunakan analisis two-way ANOVA. 248 partisipan penelitian didapatkan melalui teknik convenience sampling dengan kriteria pekerja jarak jauh atau teleworker di perusahaan marketplace/e-commerce di Indonesia dengan masa kerja minimal 1 tahun. Setiap partisipan menerima secara acak satu vignette dalam bentuk narasi skenario yang merupakan kombinasi variasi kedua variabel bebas sebagai stimulus manipulasi, sehingga partisipan terbagi menjadi 4 kelompok berdasarkan vignette yang diterima. Partisipan kemudian mengisi kuesioner Skala Perilaku Kerja Inovatif yang telah dimodifikasi menjadi skala intensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk knowledge sharing (F (1, 244) = 349.14, p = < .001) dan tingkat psychological safety (F (1, 244) = 512.4, p = < .001) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intensi perilaku kerja inovatif dan terdapat efek interaksi yang signifikan antara keduanya (F (1, 244) = 149.05, p = < .001). Teleworker yang melakukan tacit knowledge sharing di lingkungan kerja dengan psychological safety tinggi memiliki intensi perilaku kerja inovatif yang lebih besar.
Copyrights © 2024