Mangongkal Holi telah lama menjadi bagian dari budaya Batak Toba dan masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi Mangongkal Holi bertujuan untuk menghormati leluhur, menjaga garis keturunan marga, dan memperoleh keberkahan seperti falsafah hidup suku Toba yakni Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon. Tradisi Mangongkal Holi juga merupakan salah satu kearifan lokal Batak Toba. Menurut Keraf, kearifan lokal sendiri adalah segala bentuk pengetahuan yang menjadi pedoman tingkah laku manusia ketika hidup dalam suatu komunitas ekologis, yaitu kepercayaan, pemahaman atau wawasan, adat istiadat atau etika yang menjadi pedoman tingkah laku. Dalam kearifan lokal terdapat nilai pendidikan. Adapun nilai Pendidikan menurut Susanti terdiri atas nilai agama, nilai sosial, dan nilai sejarah. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik analisis data yang dipakai adalah survei literatur melalui buku pendukung dan sumber data berasal dari beberapa artikel ilmiah yang ada di Google Scholar. Hasil dari penelitian ini ditemukan adanya tahapan dalam tradisi mangongkal holi, antara lain: Tinopot ma aka hula-hula ni si okalon, martonggo raja (Mengumpulkan semua pihak yang berkontribusi pada upacara ini). dan proses penggalian makam sampai memasukkan tulang belulang kedalam tugu atau simin. Sedangkan nilai-nilai pendidikan mangongkal holi yaitu nilai agama, nilai sejarah dan nilai sosial.
Copyrights © 2024