This study aims to determine the learning strategy applied, the obstacles faced, and the efforts of the head of high school in North Sumatra in learning during the Covid-19 pandemic. This research uses a mixed method approach, combining quantitative and qualitative approaches. The document study was conducted to examine data on the role of the principal in the form of tasks and functions related to learning in helping teachers improve the quality of learning. Secondary data comes from the PSMA Directorate, Pusdatin Kemdikbud, and related units. A total of 71 high school principal respondents participated in the online principal instrument survey. The results showed that schools made plans by determining the curriculum, namely K-13, emergency curriculum, or curriculum development itself. Many SMAs follow the MoEC policy using a simplified 1-sheet RPP. Learning media that are considered effective are instructional videos, photos, and powerpoints. Most of them carry out lessons online, and advise teachers to use a variety of applications for assigning students so that students don't get bored. Learning constraints are limited internet quota, lack of internet facilities, no network, and many teachers are not used to using the internet. The assessment evaluation is based on the results of activity reports, exam results, and discussions with the teacher, in the form of essays, multiple choice, and project assignments. Follow-up assessments, provide feedback to teachers, students and parents, make remedials, and provide and enrichment. Penelitian ini bertujuan mengetahui strategi pembelajaran yang diterapkan, kendala yang dihadapi, serta upaya kepala Sekolah Menengah Atas di Sumatera Utara pada pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Penelitian menggunakan pendekatan campuran (mixed method), menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Studi dokumen dilakukan untuk mengkaji data peran kepala sekolah berupa tugas dan fungsi yang berkaitan dengan pembelajaran dalam membantu guru meningkatkan mutu pembelajaran. Data sekunder berasal dari Direktorat Pendidikan Sekolah Menengah Atas, Pusat Data dan Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan unit terkait. Sebanyak 71 responden kepala Sekolah Menengah Atas berpartisipasi dalam survei daring. Hasil penelitian menunjukkan, sekolah menyusun rencana dengan menentukan kurikulum yaitu Kurikulum 2013, kurikulum darurat, atau pengembangan kurikulum sendiri. Banyak Sekolah Menengah Atas mengikuti kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran satu lembar yang disederhanakan. Media pembelajaran yang dianggap efektif adalah video pembelajaran, foto, dan PowerPoint. Sebagian besar melaksanakan pembelajaran secara jarak jauh, dan menyarankan guru dalam pemberian tugas peserta didik memakai aplikasi yang bervariasi agar peserta didik tidak bosan. Kendala pembelajaran yaitu kuota internet terbatas, fasilitas internet kurang, tidak ada jaringan bahkan banyak guru tidak terbiasa menggunakan internet. Evaluasi penilaian berdasarkan hasil laporan kegiatan, hasil ujian, serta diskusi dengan guru, berbentuk esai, pilihan ganda, dan tugas proyek. Tindak lanjut penilaian, memberikan umpan balik kepada guru, peserta didik dan orang tua, melakukan remedial, dan memberikan pengayaan.
Copyrights © 2021