Gebrakan teknologi di awal abad ke-20 mendorong para praktisi pendidikan agar dapat beradaptasi dengan gaya hidup generasi saat ini. Berkembangnya berbagai macam platform berbasis AI menjadi landasan utama dalam upaya memfasilitasi para guru untuk menyusun bahan ajar dan mendesain pembelajaran agar tampak menarik. Berbagai masalah yang timbul akibat kecenderungan generasi terhadap gawai menjadi tantang tersendiri bagi para praktisi untuk dapat menyajikan pembelajaran yang aplikatif dan melibatkan sebagian besar indra manusia. Metode dan pendekatan yang dilakukan pada pengabdian ini adalah pelatihan berbasis workshop yang dilakukan selama satu hari penuh di SMPN 1 Pangalengan Kabupaten Bandung. Salah satu model yang disimulasikan adalah pembelajaran dengan model flipp classroom. Audiens dari pengabdian ini terbagi ke dalam dua kategori yakni para guru dan sebagian besar murid. Pelatihan ini dilaksanakan di bulan Juni bertepatan dengan pekan persiapan pembagian raport siswa. Para guru sangat antusias dengan program ini dan berkali-kali meminta program ini untuk dijadikan agenda rutin di sekolah-sekolah area Pangalengan Kabupaten Bandung. Secara umum pencapaian penguasaan teknologi yang diharapkan berada pada tahap awal hingga menengah. Pelatihan ini menjadi langkah awal dalam menentukan aplikasi berbasis AI yang sesuai dengan kebutuhan guru dalam mengoptimalkan tujuan pembelajaran. Namun beberapa kendala yang disampaikan para guru terkait pada masalah jaringan dan fasilitas sekolah yang belum cukup memadai dalam menunjang kegiatan pembelajaran berbasis AI. The technological breakthrough at the beginning of the 20th century encouraged educational practitioners to adapt to the lifestyle of the current generation. The development of the various AI-based platforms is the main basis for efforts to to facilitate teachers in compiling teaching materials and designing learning to make it look interesting. The various problems that arise due to the generation’s tendency towards gadgets are a challenge for practitioners to be able to present learning that is applicable and involves most of the human senses. The method and approach used in this service is workshop-based training which is carried out for one full day at junior high school SMPN 1 Pangalengan, Bandung Regency. One model that is learning using the Flipp classroom model. The audience for this service is divided in two categories, namely teachers and mos students. This training was held in June to coincide with the preparation week for distributing student report cards. The teachers are very enthusiastic about this program and have repeatedly asked for this program to be made a routine agenda in schools in the Pangalengan area, Bandung Regency. Generally, the expected achievement of mastery of technology is in theearly to middle stages. This workshop is the first step in determining AI-based applications needed to optimize learning outcomes. However, several obstacles expressed by teachers were related to network problems and school facilities which were not yet adequate enough to support AI-based learning activities.
Copyrights © 2024