Mahmud Yunus berpandangan bahwa israiliyat tidak boleh dijadikan sumber penafsiran al-Qur’an. Dalam perspektifnya, israiliyat merupakan cerita-cerita dari Yahudi yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Namun Yunus ternyata tetap mencantumkan israiliyat dalam tafsirnya, yang dapat ditemukan pada kisah Sulaiman dan Ayyub, tepatnya di surah Shad. Maka, penelitian ini mengangkat dua rumusan masalah, bagaimana konsistensi Mahmud Yunus terhadap penolakan israiliyat? dan bagaimana kualitas israiliyat kisah Sulaiman dan Ayyub dalam Tafsir Qur’an Karim?. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya israiliyat dalam Tafsir Qur’an Karim dengan mengaitkan Tafsir al-Azhar karya Hamka, serta mengukur kualitas israiliyat kisah Sulaiman dan Ayyub dengan menggunakan pendekatan teori israiliyat al-Dhahabi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dan jenis penelitian kepustakaan (library research). Akhirnya penelitian ini memberikan temuan, bahwa: Pertama, Tafsir Qur’an Karim ditemukan israiliyat pada kisah Sulaiman dan Ayyub tepatnya di surah Shad, di mana penulis mengaitkannya dengan Tafsir al-Azhar karya Hamka. Kedua, kualitas israiliyat kisah Sulaiman dan Ayyub dengan menggunakan teori al-Dhahabi dapat diketahui bahwa semua israiliyat didiamkan. Maka, dalam hal ini, Mahmud Yunus dapat dikatakan tidak konsisten mempertahankan pendapatnya diawal yang menolak adanya israiliyat, juga tidak ada alasan mengapa Yunus memasukkan israiliyat dalam kitab tafsirnya, sehingga bisa dipastikan bahwa Yunus memang benar-benar telah melakukan inkonsistensi.
Copyrights © 2024