Transisi TK ke SD masih melekat budaya mewajibkan anak memiliki ketrampilan membaca oleh pandangan orang tua walaupun orang tua sudah teredukasi bahwa pembelajaran di TK dunia anak itu eksplorasi bermain. Bahkan orang tua rela anak les untuk mahir membaca, maka dari itu tujuan penelitian ini ingin mengetahui miskonsepsi orang tua dalam transisi TK ke SD wajib tidaknya ketrampilan membaca. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dilaksanakan di semester dua berlokasi TK Tunas Harapan Nusa Dukuhsalam. Data penelitian dikumpulkan menggunakaan wawancara, observasi, maupun dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan miles, hubernan, dan saldana berupa mencari data, menyajikan, dan penarikan kesimpulan melalui instrumen pedoman wawancara dan peneliti sendiri. Hasil penelitian ini menunjukan tetap adanya harapan anak mahir membaca dalam transisi TK ke SD karena kekhawatiran orang tua terhadap pembelajaran di jenjang tersebut walaupun orang tua sudah teredukasi tetap saja mencari cara agar anak mahir dalam ketrampilan membaca termasuk pemberian hadiah dan menunggu kondisi hati anak mau belajar membaca dengan hakikat keliru karena kebiasaan lingkungan dan kebudayaan transisi TK ke SD yang memang dianggap memerlukan hal tersebut. Tidak ada yang salah memberikan pengenalan membaca karena bermanfaat seumur hidup, hanya saja lebih baik tidak mewajibkan biarkan anak distimulasi sehingga memiliki minat baca dari diri sendiri menjadikan anak senang, tidak rugi, dan orang tua pun bahagia.
Copyrights © 2024