Artikel ini mengeksplorasi kompleksitas sosial budaya di balik standarisasi kecantikan, khususnya konstruksi vagina yang dianggap “sempurna” oleh mayoritas orang. Melalui lensa kuasa tubuh Michel Foucault, penulis berusaha untuk menyoroti bagaimana norma-norma kecantikan dipahami, diterapkan, dan dipertahankan dalam masyarakat. Artikel ini akan memberikan wawasan tentang bagaimana institusi kekuasaan seperti media, industri kecantikan dan budaya populer berperan dalam membentuk sekaligus memperkuat standar kecantikan yang seringkali tidak realistis dan merugikan perempuan. Penelitian ini memperlihatkan adanya implikasi psikologis dan tekanan sosial berupa ‘body image issues’ atau ketidakpuasan atas citra tubuh perempuan. Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk memberikan wawasan sekaligus merangsang refleksi kritis pembaca untuk membebaskan perempuan dari ekspektasi yang tidak realistis terhadap pendisiplinan praktik ketubuhan.
Copyrights © 2024