Penelitian ini mengkaji implikasi penggunaan deiksis persona dalam kisah Nabi Nuh AS sebagaimana tercantum di ayat-ayat Al-Qur'an terhadap prinsip kesantunan berdasarkan teori Geoffrey Leech. Fokus penelitian adalah menganalisis bagaimana deiksis persona dalam tuturan perintah dan larangan mencerminkan nilai-nilai kesantunan. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan teknik analisis isi, mengidentifikasi 29 bentuk deiksis persona dari sembilan surah Al-Qur'an yang relevan. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deiksis persona pertama tunggal adalah yang paling dominan digunakan (44,82%). Prinsip kesantunan yang sering muncul adalah maksim simpati dan kearifan (masing-masing 30%), yang mencerminkan empati Nabi Nuh kepada kaumnya, baik dalam upaya mengajak mereka kepada kebaikan maupun saat menghadapi penolakan. Selain itu, variasi deiksis persona menunjukkan perbedaan pola komunikasi sesuai dengan relasi partisipan, seperti antara Allah dan Nabi Nuh, serta Nuh dengan kaumnya. Kesimpulannya, deiksis persona dalam Al-Qur'an bukan berfungsi sebagai alat linguistik saja akan tetapi sebagai sarana penguat pesan moral dan etika komunikasi, yang relevan dalam konteks interaksi manusia sehari-hari.
Copyrights © 2024