Penelitian ini berjudul: “Kontekstualisasi Nilai Filosofis Seni Wayang Sasak Berbasis Kearifan Lokal dalam Bingkai Moderasi Beragama Masyarakat Plural di Pulau Lombok”. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, terdapat sejumlah tokoh punakawan wayang Sasak berbasis kearifan lokal yang didalangi oleh Lalu Nasib diantaranya yang terkenal: a) Amaq Baoq, b) Amaq Amet, c) Amaq Ocong, d) Amaq Kesek, e) Inaq Itet, f) Amaq Beko dan g) Jero Dangkem. Sementara nilai-nilai filosofis yang terbangun dari karakter tersebut yaitu: kearifan dalam kesederhanaan, keberanian menyuarakan kebenaran, harmoni dengan alam dan antar sesama, penghormatan terhadap tradisi dan leluhur, serta bijaksana dalam humor. Kedua, perbedaan khas tokoh punakawan wayang Sasak dengan wayang lainnya di Nusantara antara lain: a) Punakawan dalam Wayang Sasak yang didalangi oleh Lalu Nasib sangat berbasis kearifan lokal memiliki nama-nama lokal sebagaimana disebut diatas. Nama-nama ini tidak ditemukan di tradisi wayang Jawa atau Bali dan mencerminkan bahasa dan budaya masyarakat Lombok. Nama-nama tersebut juga memiliki makna simbolis yang khas sesuai dengan karakteristik masyarakat Sasak yang plural. Ketiga, nilai filosofis wayang Sasak dalam bingkai moderasi beragama masyarakat plural pulau Lombok terkontekstualisasi dalam sejumlah poin antara lain: a) komitmen kebangsaan; b) toleransi; c) anti kekerasan dan d) penerimaan terhadap tradisi. Sementara itu relevansi wayang Sasak dengan tantangan kehidupan beragama masyarakat pluaral di Lombok berfungsi untuk: a) menjawab tantangan radikalisme, b) menguatkan identitas masyarakat Lombok yang religius dan berbudaya, dan c) memupuk solidaritas sosial dan religus masyarakat.
Copyrights © 2024