Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Islam Dan Pendidikan Pluralisme: Menampilkan Wajah Islam Toleran Melalui Kurikulum PAI Berbasis Kemajemukan Arfan, Muhamad
Fikroh: (Jurnal Studi Islam) Vol. 6 No. 2 (2022): Desember: Fikroh Jurnal Studi Islam
Publisher : Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/fikroh.v6i2.761

Abstract

Perlunya memperbaharui dan mengembangkan kurikulum PAI yang berbasis keanekaragaman tersebut dengan suatu pertimbangan kurikulum dan metode merupakan elemen penting dalam proses belajar mengajar. Berhasil dan tidaknya suatu tujuan pendidikan tergantung kurikulum yang dipersiapkan dan metode yang digunakannya. Tidak relevannya kurikulum dan metode yang dikembangkan di suatu sekolah dengan realitas kehidupan yang dialami oleh siswa, menyebabkan siswa teraliniasi dari lingkungannya alias tidak bisa peka terhadap perkembangan yang terjadi disekitarnya. Hal ini berarti, dalam konteks globalisasi, sekolah tersebut telah “gagal” untuk mengantarkan peserta didiknya untuk menjadi “anak” yang cerdas, tanggap dan dapat bersaing dipasaran bebas. Selain itu, pentingnya mereformasi kurikulum PAI dengan menampilkan wajah Islam toleran dapat dijelaskan dari sudut pandang filsafat perenialisme, esensialisme dan progresifisme. Dalam pandangan perenialisme kurikulum adalah "construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Sementara dalam prespektif filsafat progresivisme, posisi kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan. Dari sinilah sangat memungkinkan untuk mengajarkan prinsip –prinsip ajaran Islam yang humanis, demokratis dan berkeadilan kepada peserta didik. Sebuah prinsip-prinsip ajaran Islam yang sangat relevan untuk memasuki masa depan dunia yang ditandai dengan adanya keanekaragaman budaya dan agama.
Pola Campur Kode dan Perubahan Fonologis Tuturan Masyarakat Keturunan Arab Di Kampung Arab Ampenan Moh. Nasikin; Arfan, Muhamad; Irza Hidayatullah
Fikroh: (Jurnal Studi Islam) Vol. 7 No. 2 (2023): Desember: Fikroh Jurnal Studi Islam
Publisher : Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul: “Pola Campur Kode dan Perubahan Fonologis Tuturan Masyarakat Keturunan Arab di Kampung Arab Ampenan”. Penelitian merupakan jenis penelitian lapangan yang bersifat kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi, rekaman suara, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pola-pola campur kode tuturan masyarakat keturunan Arab di kampung Arab Ampenan secara garis besar terbagi menjadi 3 pola yaitu: (1) pola campur kode bahasa Arab dengan bahasa Melayu jika penuturnya sesama keturunan Arab, (2) pola campur kode antara bahasa Arab dan bahasa Sasak jika penuturnya antara keturunan Arab dan Suku Sasak, dan (3) pola campur kode antara bahasa Arab, bahasa Sasak, dan bahasa Indonesia jika penuturnya antara keturunan Arab dan suku Sasak. Untu pola (1) dan (2) dikenal dengan istilah pola campur kode ke luar (outer code mixing) sedang pola (3) dikenal dengan pola campur kode campuran (hybrid code mixing). Penggunaan pola ini diterapkan jikalau sudah ada interaksi atau hubungan sosial yang terbangun cukup lama antara penutur yang satu dengan penutur lainnya. 2) Perubahan fonologis tuturan bahasa Arab di kampung Arab Ampenan pada sejumlah konsonan dan vokal dalam bahasa Arab klasik/standar modern sesuai dengan teori Crowley yaitu: dissimilasi, assimilasi, sinkope, netralisasi, apokop, dan epentesis.
Kontekstualisasi Nilai Filosofis Seni Wayang Sasak Berbasis Kearifan Lokal Dalam Bingkai Moderasi Beragama Masyarakat Plural Di Pulau Lombok Arip Watoni, Saipul; Arfan, Muhamad
Fikroh: (Jurnal Studi Islam) Vol. 8 No. 2 (2024): Desember: Fikroh Jurnal Studi Islam
Publisher : Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/fikroh.v8i2.1691

Abstract

Penelitian ini berjudul: “Kontekstualisasi Nilai Filosofis Seni Wayang Sasak Berbasis Kearifan Lokal dalam Bingkai Moderasi Beragama Masyarakat Plural di Pulau Lombok”. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, terdapat sejumlah tokoh punakawan wayang Sasak berbasis kearifan lokal yang didalangi oleh Lalu Nasib diantaranya yang terkenal: a) Amaq Baoq, b) Amaq Amet, c) Amaq Ocong, d) Amaq Kesek, e) Inaq Itet, f) Amaq Beko dan g) Jero Dangkem. Sementara nilai-nilai filosofis yang terbangun dari karakter tersebut yaitu: kearifan dalam kesederhanaan, keberanian menyuarakan kebenaran, harmoni dengan alam dan antar sesama, penghormatan terhadap tradisi dan leluhur, serta bijaksana dalam humor. Kedua, perbedaan khas tokoh punakawan wayang Sasak dengan wayang lainnya di Nusantara antara lain: a) Punakawan dalam Wayang Sasak yang didalangi oleh Lalu Nasib sangat berbasis kearifan lokal memiliki nama-nama lokal sebagaimana disebut diatas. Nama-nama ini tidak ditemukan di tradisi wayang Jawa atau Bali dan mencerminkan bahasa dan budaya masyarakat Lombok. Nama-nama tersebut juga memiliki makna simbolis yang khas sesuai dengan karakteristik masyarakat Sasak yang plural. Ketiga, nilai filosofis wayang Sasak dalam bingkai moderasi beragama masyarakat plural pulau Lombok terkontekstualisasi dalam sejumlah poin antara lain: a) komitmen kebangsaan; b) toleransi; c) anti kekerasan dan d) penerimaan terhadap tradisi. Sementara itu relevansi wayang Sasak dengan tantangan kehidupan beragama masyarakat pluaral di Lombok berfungsi untuk: a) menjawab tantangan radikalisme, b) menguatkan identitas masyarakat Lombok yang religius dan berbudaya, dan c) memupuk solidaritas sosial dan religus masyarakat.
Dialektika Agama dan Budaya : (Pola Hubungan Islam dan Budaya Lokal Di Masyarakat Gerung Lombok Barat) Arfan, Muhamad
Fikroh: (Jurnal Studi Islam) Vol. 8 No. 2 (2024): Desember: Fikroh Jurnal Studi Islam
Publisher : Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/fikroh.v8i2.1702

Abstract

Abstrak: Penelitian ini berjudul: “Campur Kode dan Perubahan Fonologis Tuturan Masyarakat Keturunan Arab di Kampung Arab Ampenan”. Penelitian merupakan jenis penelitian lapangan yang bersifat kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi, rekaman suara, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pola-pola campur kode tuturan masyarakat keturunan Arab di kampung Arab Ampenan secara garis besar terbagi menjadi 3 pola yaitu: (1) pola campur kode bahasa Arab dengan bahasa Melayu jika penuturnya sesama keturunan Arab, (2) pola campur kode antara bahasa Arab dan bahasa Sasak jika penuturnya antara keturunan Arab dan Suku Sasak, dan (3) pola campur kode antara bahasa Arab, bahasa Sasak, dan bahasa Indonesia jika penuturnya antara keturunan Arab dan suku Sasak. Untu pola (1) dan (2) dikenal dengan istilah pola campur kode ke luar (outer code mixing) sedang pola (3) dikenal dengan pola campur kode campuran (hybrid code mixing). Penggunaan pola ini diterapkan jikalau sudah ada interaksi atau hubungan sosial yang terbangun cukup lama antara penutur yang satu dengan penutur lainnya. 2) Perubahan fonologis tuturan bahasa Arab di kampung Arab Ampenan pada sejumlah konsonan dan vokal dalam bahasa Arab klasik/standar modern sesuai dengan teori Crowley yaitu: dissimilasi, assimilasi, sinkope, netralisasi, apokop, dan epentesis.
Pengembangan SDM Masjid Nurul Huda Dasan Baru melalui Pelatihan Manajemen Berbasis Humanity Capital Said, Khaerudin; Nasarudin, Nasarudin; Aziz, Abdul; Arfan, Muhamad; Masykur, M. Zakki
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol 4 No 4 (2025)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v4i4.1736

Abstract

Masjid sebagai pusat spiritual umat Islam memiliki peran yang strategis. Namun, masih banyak masjid komunitas yang menghadapi kendala dalam tata kelola manajemen, terutama karena keterbatasan kapasitas sumber daya manusia pengurusnya. Hal ini juga terjadi pada Masjid Nurul Huda Dasan Baru, Lombok Timur, di mana sistem manajemen masih bersifat tradisional, dokumentasi kegiatan kurang teratur, dan keterlibatan remaja masjid belum terfasilitasi secara optimal. Kondisi ini menunjukkan urgensi penguatan kapasitas pengurus dengan pendekatan baru yang lebih profesional, partisipatif, dan berbasis nilai kemanusiaan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan kemampuan manajerial pengurus Masjid Nurul Huda melalui pelatihan berbasis humanity capital, terutama pada pengelolaan data administrasi berbantuan teknologi dan mengelola keuangan masjid secara transparan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatoris-transformasional melalui tahapan pendahuluan (need assessment), pelaksanaan (pelatihan dan simulasi), serta evaluasi (refleksi dan coaching). Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan manajemen pengurus. Peserta pelatihan mampu menyusun rencana strategis program masjid, membangun sistem dokumentasi kegiatan, serta memperkuat transparansi laporan keuangan. Evaluasi menunjukkan tingkat kepuasan peserta yang tinggi dan adanya perubahan perilaku dalam komunikasi serta kepemimpinan berbasis nilai empati dan pelayanan.
SEMANTIC RECONSTRUCTION OF QUR’ANIC VALUES FOR MULTICULTURAL EDUCATION Nasarudin; Aziz, Abdul; Arfan, Muhamad; Masykur, Muhammad Zakki; Ratnasari, Kartika
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol. 23 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v23i2.18295

Abstract

This study aims to reconstruct the meaning of multicultural education in the Qur’an through Toshihiko Izutsu’s semantic epistemology and to examine its implications for global ethical principles. Using a descriptive-analytical library research design, the study demonstrates that Izutsu’s semantic framework, comprising the identification of key concepts, basic meanings, relational meanings, historical meanings, and the Qur’anic Weltanschauung, is highly relevant for uncovering the Qur’an’s vision of multiculturalism. The analysis shows that key terms such as syuʿūban, qabāʾila, alsinatikum, and alwānikum are interconnected within a complex semantic network. This interconnection reveals a universal semantic transformation in which these terms shift from narrow pre-Qur’anic connotations to an inclusive worldview that regards ethnic, linguistic, and racial diversity as signs of divine greatness and as foundations for strengthening human relationships (li-taʿārafū), rather than as sources of division. The reconstruction of the Qur’an’s internal semantic network ultimately forms a worldview grounded in equality, dignity, and human brotherhood, where moral worth is determined by piety rather than physical or social identity. The findings further highlight that principles such as tolerance, justice, equality, and humanity emerge as inseparable components of the Qur’anic Weltanschauung, offering a strong philosophical basis for multicultural education rooted in sacred text and oriented toward collective well-being