Seni dan budaya tradisional dihadapkan pada tantangan yang signifikan dalam mentransmisikan nilai-nilainya dari satu era ke era berikutnya. Kehadiran teknologi mutakhir menjadi pendorong utama percepatan evolusi budaya. Namun, globalisasi, yang didorong oleh teknologi mutakhir, sering dianggap sebagai ancaman terhadap seni dan budaya tradisional. Di samping berpotensi menghilangkan kemampuan kebudayaan dalam bertransformasi, agar dapat terus berlanjut, sikap ultra-konservatisme budaya juga tidak relevan bahkan dengan kebudayaan itu sendiri yang pada dasarnya bersifat dinamis dan terus bertransformasi seiring waktu. Dalam bentuk conceptual paper dan dengan metode studi pustaka, tulisan ini berupaya untuk menawarkan suatu “jalan ketiga”, yakni “kosmopolitanisme digital” di tengah-tengah dua kutub ekstrim ultra-konservatisme budaya dan sikap teknofilia yang diharapkan dapat menjadi suatu “model” sikap (pada tataran personal) yang dapat digunakan oleh para pengemban kebudayaan untuk mengembangkan kebudayaan tradisional di era teknologi digital, khususnya di dalam realitas digital media sosial. Kosmopolitanisme digital mengacu pada pandangan atau sikap yang mencerminkan pemahaman, keterlibatan, dan identitas yang melintasi batas-batas geografis dalam era digital. Kosmopolitanisme digital, dapat menjadi suatu strategi, sekaligus jembatan antara keberlanjutan budaya dan pengaruh global, memberikan peluang baru dan tantangan untuk pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional dalam era digital.
Copyrights © 2024