Penelitian ini mengkaji representasi peran gender dan kesehatan mental pada ibu melalui film berjudul “Baby Blues” dengan menggunakan pendekatan semiotika. Film ini mengangkat isu seputar kesehatan mental, khususnya sindrom baby blues pada ibu yang baru pertama kali memiliki anak, serta adanya ketimpangan gender dalam pembagian peran domestik di lingkungan rumah tangga. Melalui analisis elemen-elemen visual dan naratif, penelitian ini mengindentifikasi bagaimana peran gender tradisional dan egaliter ditampilkan, serta dampaknya terhadap kesehatan mental perempuan. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui analisis kualitatif yang berfokus pada simbol dan tanda-tanda dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan peran tradisional di mana laki-laki berfungsi sebagai pencari nafkah, sementara perempuan terjebak dalam urusan domestik. Di sisi lain, beberapa adegan juga menunjukkan pergeseran peran gender ke arah egaliter yang mencerminkan perubahan dalam pandangan masyarakat. Tekanan sosial yang dialami oleh karakter Dinda, yang harus memenuhi ekspektasi sebagai ibu dan istri yang baik, ternya berdampak negatif pada kesehatan mentalnya. Dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske, penelitian ini mengungkapkan bahwa film “Baby Blues” tidak hanya sebagai media hiburan akan tetapi menjadi sebuah kritik sosial terhadap norma gender yang kaku pada masyarakat kita. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keseimbangan peran dan keluarga dan lebih perhatian terhadap dampak negatif seperti gangguan kesehatan mental pada salah satu pihak karena adanya ketidakadilan peran gender.
Copyrights © 2024