Etika budaya kepemimpinan merujuk pada nilai-nilai dan prinsip moral yang membentuk cara pemimpin berperilaku dan berinteraksi dengan anggota tim, serta bagaimana budaya organisasi serta kearifan lokal mempengaruhi kepemimpinan tersebut. Kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang berlaku di dalam tata kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengelola lingkungan hidup secara lestari. Dalam hal ini dikaitkan dengan ajaran Sradha dan Bhakti dalam kearifan lokal bali. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Etika kepemimpinan berlandaskan sradha dan bhakti berarti bahwa pemimpin harus memiliki dasar moral yang kuat dan sikap pengabdian yang tulus terhadap Tuhan dan masyarakat. Sradha, yang berarti kepercayaan atau keyakinan, berfungsi sebagai fondasi moral dalam kepemimpinan. Pemimpin yang memiliki sradha menunjukkan karakteristik Integritas dan Kejujuran artinya Sradha mendorong pemimpin untuk bertindak jujur dan konsisten dengan nilai-nilai yang mereka terapkan. Bhakti, yang berarti pengabdian, memberikan dimensi lain dalam etika kepemimpinan. Pemimpin yang menerapkan bhakti memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut Empati dan Kepedulian yakni pemimpin yang berbasis bhakti menunjukkan perhatian yang tulus terhadap kesejahteraan pengikut. Etika kepemimpinan berdasarkan sradha dan bhakti sebaiknya diterapkan diseluruh perusahaan lokal maupun global karena dapat membawa dampak positif bagi perusahaan, baik dari sisi internal (karyawan, budaya perusahaan) maupun eksternal (stakeholder, masyarakat global).
Copyrights © 2025