Abstrak Kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan kehidupan yang sejati adalah kehidupan di akhirat. Kebanyakan umat Islam hanya mengetahui adanya surga dan neraka. Namun, ada tempat di antara surga dan neraka yang disebut a‘rāf, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-A‘rāf ayat 46-49. A‘rāf merupakan pembatas antara surga dan neraka, dan di atasnya terdapat orang-orang. Orang-orang yang berada di atas a‘rāf disebut aṣḥābul a‘rāf. Terdapat banyak pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan aṣḥābul a‘rāf. Beberapa mengatakan mereka adalah orang-orang yang seimbang antara kebaikan dan keburukan, sementara pendapat lain menyebut mereka adalah para ulama, nabi, dan kelompok yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Dalam penelitian ini, penulis bertujuan untuk mengkaji makna aṣḥābul a‘rāf menurut pandangan Imam Qurtubi, faktor-faktor yang memengaruhi tafsirannya, serta dampak dari penafsirannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Qurtubi mengutip sepuluh pendapat tentang makna aṣḥābul a‘rāf dalam tafsir Al-Jāmi‘ Li Aḥkām Al-Qur’ān. Salah satu pendapat yang dipilih oleh Imam Qurtubi adalah bahwa aṣḥābul a‘rāf adalah para malaikat. Hal ini didasarkan pada riwayat Abu Mijlaz yang menyatakan bahwa kata رِجَالٌ di sini bermakna malaikat, yang digambarkan sebagai laki-laki, serupa dengan sebutan bagi jin dalam QS. Al-Jinn: 6. Dalam tafsir Al-Qurtubi disebutkan bahwa lafaz surah Al-A‘rāf ayat 48 قَالُوۡا مَاۤ اَغۡنٰى عَنۡكُمۡ جَمۡعُكُم adalah ucapan aṣḥābul a‘rāf kepada penghuni neraka sebagai celaan, sementara ayat 49 اُدۡخُلُوا الۡجَـنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَاۤ اَنۡتُمۡ تَحۡزَنُوۡنَ adalah ucapan aṣḥābul a‘rāf kepada penghuni surga untuk menambah kesedihan dan penyesalan bagi penghuni neraka. Faktor yang memengaruhi tafsirannya meliputi aspek kebahasaan, sejarah perang pemikiran akibat perbedaan ideologi, serta dalil dan riwayat pendukung argumentasi.
Copyrights © 2024