Kabupaten Garut, prevalensi balita underweight pada tahun 2022 berdasarkan BB/U adalah 13,1% dan berdasarkan BB/TB adalah 3,8%. Berat badan digunakan sebagai indikator terbaik untuk menilai status gizi dan pertumbuhan anak karena sensitif terhadap perubahan kecil, pengukurannya objektif, dan dapat diulangi. Dampak dari gizi kurang yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Maripari saat ini berdampak pada tumbuh kembang anak dimana anak mengalami keterlambatan bicara dan kondisi tubuh sangat kurus. Hasil wawancara kepada 10 orang ibu yang memiliki balita dengan berat badan kurang, ditemukan bahwa balitanya mengalami gangguan nafsu makan dan tidak naik berat badan selama 2 bulan terakhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian pijat tuina dan pemberian telur terhadap peningkatan berat badan balita gizi kurang. Metode penelitian menggunakan rancangan peneletian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kegiatan ini dilakukan pada bayi sebanyak 2 balita yang mengalami gizi kurang. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pijat tui na efektif terhadap peningkatan berat badan balita gizi kurang dengan meningkatkan berat badan sebanyak 0,8 kg selama 14 hari. Telur rebus juga efektif terhadap peningkatan berat badan balita gizi kurang dengan meningkatkan berat badan sebanyak 1,2 kg selama 14 hari. Sehingga disimpulkan pemberian telur rebus lebih efektif terhadap peningkatan berat badan balita gizi kurang dibandingkan pijat tui na dengan selisih peningkatan sebanyak 0,4 kg selama 14 hari. Diharapakan masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita gizi kurang dapat mengimplementasikan pemberian pijat tuina dan pemberian telur ayam sesuai aturan untuk membantu peningkatan nafsu makan dan kenaikan berat badan balita.
Copyrights © 2024