Penelitian ini membahas analisis manajemen dakwah terapi psikoreligius dalam menangani perilaku sosiopatik di Pondok Pesantren Istighfar, Semarang. Didirikan dengan tujuan membina mantan preman, pesantren ini berupaya membantu mereka meninggalkan perilaku sosiopatik melalui pendekatan psikoterapi religius. Di bawah bimbingan Gus Tanto, santri yang berasal dari kawasan rawan seperti Barutikung, Kebon Harjo, Kaligawe, Tambaklorok, dan Purwosari mendapatkan pembinaan intensif yang menekankan nilai kasih sayang, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitar. Keunikan pesantren ini terletak pada busana serba hitam yang dikenakan para santrinya, yang sebagian besar adalah laki-laki bertubuh gempal dan bertato. Dengan pendekatan dakwah berbasis spiritual, perilaku sosiopatik seperti kriminalitas dan kecanduan narkoba berhasil dicegah dan diatasi. Manajemen dakwah yang diterapkan mencakup tahapan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengendalian (controlling). Strategi ini berperan penting dalam membentuk kembali santri menjadi individu yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam manajemen dakwah yang diterapkan di Pondok Pesantren Istighfar dalam upayanya mencegah dan mengobati perilaku sosiopatik, sebagai bagian dari dakwah Islam yang menyasar semua lapisan masyarakat, khususnya kelompok rentan.
Copyrights © 2025