Pesantren memiliki kekayaan visi kecerdasan sebagaimana yang digambarkan Gardner. Delapankecerdasan yang disebutkan telah mengiringi kelangsungan pembelajaran di pesantren, sejaksantriwati bangun dari tidur hingga tidur kembali. Bertolak belakang dari umumnya pendidikanformal yang ada, yang pada faktanya terlalu monoton dalam memanjakan kecerdasan intelektuallogis-matematis, pendidikan dalam ruang pesantren justru sebaliknya, berbagai macam variasipembelajaran hadir di ruang pembelajarannya, tidak hanya sekadar belajar kitab, melainkan jugamelalui membaca, menulis, menghitung dan menghafal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif–deskriptif, dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakanwawancara tidak terstruktur, observasi langsung non partisipan, dan dokumentasi. Adapun analisisdata menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Adapun kesimpulan daripenelitian ini adalah Pengasuh atau Pembina menerapkan metode pola asuh campuran antara polaasuh otoriter dan pola asuh demokratis dalam mengembangkan kecerdasan majemuk. Kemudian,Penerapan metode pola asuh dipengaruhi oleh faktor lingkungan, status sosial, serta kultur danbudaya.
Copyrights © 2024