Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara filsafat pendidikan, kebudayaan lokal, dan praktik pendidikan matematika di sekolah dasar Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Berbasis pada filsafat konstruktivisme sosial, penelitian ini menggarisbawahi bahwa pembelajaran matematika terjadi melalui interaksi sosial dan pengalaman nyata, menjadikan guru sebagai fasilitator yang mendukung proses konstruksi pengetahuan siswa. Integrasi elemen budaya lokal seperti tradisi dan nilai komunal ke dalam kurikulum membantu siswa menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari, memperkuat relevansi pendidikan dan mendorong partisipasi aktif. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pendidikan yang berbasis budaya lokal dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa, serta memperkuat identitas budaya mereka. Studi literatur dan analisis empiris digunakan untuk menyusun model pembelajaran yang relevan dan kontekstual, menggabungkan filsafat pendidikan dengan kekayaan budaya lokal). Hasil penelitian diharapkan memberikan rekomendasi strategis bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan pendekatan pendidikan yang adaptif dan inklusif, yang meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan berpikir kritis siswa.
Copyrights © 2025