Yogyakarta merupakan kawasan strategis yang mencerminkan integrasi antara potensi budaya dan dinamika kewirausahaan, dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berperan signifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Kesuksesan UMKM bergantung pada kemampuan mereka untuk beradaptasi, berinovasi, dan mengelola usaha secara efektif. Program pengabdian masyarakat ini berfokus pada penerapan prinsip "asih" dari filosofi "asah, asih, asuh" Ki Hadjar Dewantara, dengan menekankan pentingnya kepedulian, komunikasi harmonis, dan kesejahteraan karyawan dalam pengelolaan usaha. Melalui metode Participatory Learning and Action (PLA), program ini mendorong partisipasi aktif dan dialog antara pemilik usaha dan karyawan untuk mengidentifikasi tantangan dan menemukan solusi bersama. Observasi dan wawancara dengan tujuh UMKM di Yogyakarta menunjukkan bahwa beberapa UMKM telah berupaya menerapkan prinsip asih melalui apresiasi, komunikasi personal, dan pemberian dukungan emosional. Namun, terdapat tantangan berupa kurangnya konsistensi apresiasi, dialog terbuka, dan evaluasi berkelanjutan, yang memengaruhi motivasi dan loyalitas karyawan. Program ini membantu UMKM memahami bahwa pembinaan dan apresiasi karyawan merupakan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan usaha. Dengan penerapan asih yang lebih terstruktur dan konsisten, UMKM diharapkan mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif, produktif, dan harmonis, sekaligus menjaga keseimbangan antara tujuan ekonomi dan nilai sosial.
Copyrights © 2024